Home Uncategorized POSISI FILSAFAT DALAM SAINS ISLAM

POSISI FILSAFAT DALAM SAINS ISLAM

10
0

HILMI.ID, Oleh : Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar

Pakar Geospasial, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE)

Sebagian orang menduga bahwa perkembangan sains di masa keemasan peradaban Islam adalah dipicu oleh filsafat yang semula dipelajari dari buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa Yunani. Adalah para mutakalimin yang dipaksa keadaan untuk belajar filsafat, yakni untuk meladeni perdebatan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Syam yang sudah terlebih dahulu menekuni filsafat Yunani. Namun menurut Imam an-Nabhani (dalam kitab Syakhsiyah Islamiyah juz 1), generasi kedua setelah mutakalimin sudah menekuni filsafat tak lagi untuk modal berdebat, tetapi sudah murni karena filsafat ternyata olah fikir yang mengasyikkan.

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan eksperimen dan percobaan ilmiah, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis dengan berbagai premis dan aksioma, mengajukan beberapa solusi, lalu memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses itu dimasukkan ke dalam sebuah dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir rasional dan logika bahasa.

Logika merupakan ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Itu membuat filsafat sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Kata falsafah atau filsafat merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία (philosophia). Kata ini merupakan kata majemuk dari kata (philia = persahabatan, cinta) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harfiahnya berarti seorang “pencinta kebijaksanaan”.

Oleh para pengamat, filsafat diklasifikasikan menurut wilayah dan menurut agama. Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat Barat (Yunani, Eropa), Timur (Cina), dan Timur Tengah (Arab, Persia). Sementara, menurut agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.

Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Secara umum filsafat membicarakan Ontologi (di dalamnya ada fisika dan metafisika), Epistemologi, dan Aksiologi (Etika+Estetika).

Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada. Di sini, hakikat yang ada dan eksistensi secara umum dikaji dalam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam semesta dibahas dalam Kosmologi. Dalam metafisika sendiri ada berbagai perbedaan teori-teori filsafat. Idealisme, misalnya, meyakini bahwa realitas ada hanya di dalam mental (jadi “banyak atau bagus, itu karena pikiran kita mengatakan banyak atau bagus”), sementara Realisme menyatakan bahwa realitas, setidaknya beberapa bagiannya, memang benar-benar ada secara independen dari pikiran.

Kemudian Epistemologi, ini cabang filsafat yang mengkaji hakikat dan wilayah pengetahuan, seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan. Skeptisisme adalah posisi yang mempertanyakan kemungkinan yang benar-benar membenarkan kebenaran apapun. Argumen regresi, terjadi ketika untuk membenarkan pernyataan apapun, diperlukan dukungan oleh pembenaran yang lain. Rasionalisme adalah penekanan pada penalaran sebagai sumber pengetahuan. Empirisme adalah penekanan pada bukti pengamatan melalui pengalaman indrawi atas bukti lain sebagai sumber pengetahuan. Parmenides (500 SM) berpendapat bahwa berpikir harus memiliki objek, dan karena itu, jika ada yang melampaui pemikiran, maka objek tersebut mustahil dapat dipikirkan dengan benar.

Sedang Aksiologi adalah yang membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari sini lahirlah dua cabang filsafat yang membahas kualitas hidup manusia: etika dan estetika. Etika, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Sedang estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan.

Yang sering disebut filsafat Islam adalah filsafat yang seluruh pelakunya muslim. Ada perbedaan besar dengan filsafat lain: Pertama, meski semula para filsuf muslim klasik menggali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plato, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, karena Islam agama tauhid, maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan ‘sudah ditemukan’, sehingga filsuf islam relatif lebih fokus kepada manusia dan alam, karena sebagaimana mafhum, pembahasan Tuhan hanya menjadi suatu pembahasan yang tak pernah ada finalnya.

Hanya saja, kadang-kadang ada sebagian filsuf, yang terpancing untuk memikirkan alam ghaib seperti sifat-sifat Allah, malaikat atau akherat, dan akhirnya mendapat kesimpulan yang sesat, misalnya bahwa alam ini qadim atau azali, tetapi surga ternyata tidak kekal. Pemikiran ini tentu saja tidak mungkin divalidasi, karena seperti kata Parmenides, objeknya melampaui pemikiran. Namun para filsuf ini kadang menisbahkan pemikiran sesatnya ini pada beberapa filsuf kondang dalam dunia Islam, misalnya Ibnu Sina atau Ibnu Rusyd.

Ibnu Sina hidup antara 980-1037 M. Dia seorang polymath, hafal Qur’an, dokter terkenal (pengarang Kitab Qanun fit Thib – ensiklopedi kedokteran), juga penggemar ilmu matematika, fisika, geografi, astronomi dan juga filsafat (seperti tertuang dalam kitab as-Syifa).

Pada 1058 – 1111 M hidup Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Ghazali (Imam Ghazali) yang pernah menekuni filsafat sebelum beralih ke ilmu-ilmu agama dan menulis masterpiecenya “Ihya Ulumuddin”. Al-Ghazali mendapatkan bahwa banyak orang awam mempraktekkan filsafat secara keliru sehingga tersesat. Maka al-Ghazali lalu menulis kitab “Tahafut-Falasifah” (Kerancuan Filsafat). Kitab ini membuat banyak ulama kemudian menjauhi filsafat, bahkan memusuhi para filosof, bahkan sebagian tanpa pernah membaca langsung kitab filsafat itu seperti apa, atau berdiskusi dengan seorang filosofpun. Pada waktu itu, ilmu fisika pun masih dimasukkan sebagai bagian dari filsafat.

Setelah al-Ghazali wafat, pada 1126 – 1198 M hidup Abū l-Walīd Muḥammad Ibn ʾAḥmad Ibn Rusyd‎ (Ibnu Rusyd), seorang mujtahid (penulis kitab “Bidayatul Mujtahid”) yang juga polymath (ahli matematika, fisika, geografi, astronomi, kedokteran, dan filsafat) yang melihat bahwa kitab al-Ghazali ini telah menyebabkan orang menjauhi aktivitas ilmiah (yang disimbolkan dengan para filosof), sehingga menimbulkan kemunduran dalam taraf berpikir umat. Dia akhirnya menulis kitab “Tahafut-Tahafut” (Kerancuan kitab Tahafut Falasifah al-Ghazali). Intinya, filsafat itu bisa menyesatkan bila dipraktekkan oleh orang awam atau orang yang belum memiliki dasar aqidah yang kuat. Kritik al-Ghazali itu tepat, bila disampaikan kepada para filosof, agar mereka lebih berhati-hati mengajarkan filsafat, tetapi menjadi keliru, bila beredar di kalangan yang awam pada filsafat, yang akhirnya jadi memusuhi para filosof. Kalau melihat tahun hidup mereka yang tidak bersinggungan, kita jadi tahu, bahwa “dialog peradaban Al-Ghazali – Ibn Rusyd” sebenarnya hanya searah, karena mereka sesungguhnya tidak pernah bertemu.

Namun karena Ibn Rusyd hidup di Maghreb (Maroko), sementara saat itu di Timur Tengah sedang berkecamuk perang salib, sepertinya kitab Tahafut-Tahafut kurang bergema. Maka tak heran, pada 1263-1328 M hidup Taqiyyuddin Aḥmad ibn Taymiyyah (Ibn Taimiyah). Dia termasuk yang mengikuti buku Tahafut Falasifah al-Ghazali, bahkan lebih ekstrim lagi. Dia “mengadili” Ibnu Sina. Padahal mereka terpaut hampir 2 abad. Ibnu Sina tidak bisa menjelaskan apa yang keliru dipahami, sebagaimana ia juga tidak bisa menjelaskan kepada al-Ghazali. Namun demikianlah, Ibn Taimiyah memvonis Ibnu Sina sesat dan kafir. Dan pendapat Ibn Taimiyah ini yang berabad-abad kemudian diikuti sebagian ulama.

Memang, sebagaimana ada “pencela yang fanatik”, ada juga “pemuja yang fanatik”, Yang adil adalah yang di tengah, yang menilai secara proporsional berdasarkan bukti-bukti empiris yang kuat atas fakta yang dihukumi, dengan istidlal dalil syara’ yang juga ilmiah. Apa yang hari ini dinisbatkan ke Ibnu Sina, belum tentu shahih berasal dari Ibnu Sina, sebagaimana apa yang hari ini diklaim sebagai “hadits”, boleh jadi adalah hadits palsu yang tidak pernah berasal dari Rasulullah. Semoga Allah senantiasa menunjuki kita jalan yang benar itu benar, agar kita dapat mengikutinya; dan jalan yang salah itu salah, sehingga kita dapat menjauhinya.

Namun yang jelas, sejarah kemudian mencatat, bahwa yang benar-benar berkembang dalam peradaban Islam bukanlah “filsafat ghaib” (metafisika) yang tak bisa diuji, tetapi “filsafat alam”, yang berbasis pengamatan dunia empiris. Filsafat alam inilah yang lalu berkembang menjadi ilmu fisika, kimia, astronomi dan sebagainya. Isaac Newton masih menulis buku dalam bahasa Latin berjudul “Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica” (“Matematika prinsip-prinsip filsafat alam”). Jadi definisi filsafat memang telah berkembang.

Namun juga tidak terlalu salah untuk mengatakan, bahwa sebenarnya Islam tidak memerlukan filsafat. Islam jelas membutuhkan logika dan matematika. Namun apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, serta soal nilai dan norma, semua sudah dijelaskan di dalam Qur’an dan Sunnah. Tinggal tugas para mujtahid dan ilmuwan untuk menjabarkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here