Home Uncategorized PARIWISATA INSPIRATIF PASCAPANDEMI

PARIWISATA INSPIRATIF PASCAPANDEMI

10
0

HILMI.ID, Oleh : Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar (Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial I Anggota Dewan Penasehat Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) )

Saat ini dunia pariwisata di seluruh dunia sedang diterpa krisis akibat covid-19. Namun, kita tetap perlu memikirkan pariwisata pasca pandemi. Bagaimanapun pariwisata adalah sektor ekonomi yang diyakini tetap berjaya di era industri ke-4, di mana sebagian besar lapangan kehidupan sudah terotomatisasi dengan robot dan kecerdasan artifisial. Beberapa tahun silam bahkan pemerintah mendorong agar tiap kabupaten mempromosikan sejumlah objek wisata baru. Maka bermuncullah desa wisata di mana-mana.Apalagi Nusantara sangat kaya dengan aneka atraksi wisata, baik alam maupun budaya. Dengan sedikit sentuhan untuk meningkatkan asset, akses dan amenities (fasilitas), maka objek-objek wisata di tanah air akan lebih menarik dari objek serupa di di luar negeri. Bahkan pasar Indonesia yang sudah sangat besar memungkinkan untuk menarik wisatawan domestik dalam kadar seperti pasar bersama Eropa, di mana penduduk negeri anggota Uni Eropa saling berlibur ke negeri lainnya.

Di wilayah Jawa Tengah dan DIY saja, keragaman atraksi wisata sudah sangat besar. Namun memang diakui akses informasi maupun transportasi ke objek wisata itu masih perlu ditingkatkan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang relatif “hijau” dalam berwisata. Kehadiran media sosial membuat mereka mudah “gumunan”. Sebuah foto di Instagram tentang sebuah “desa di atas awan”, bisa membuat ribuan orang tiba-tiba menyerbu desa itu di akhir pekan. Ini tentu akan membuat desa-desa di sepanjang jalan ke sana, akan “kaget”. Transportasi bisa collapse dengan kehadiran ribuan pengunjung tersebut.Lagipula, umur wisata dengan modal gumunan itu umumnya tidak panjang. Disruptif. Swasta yang telah berinvestasi cukup besar di awal, akhirnya mengeluh bahwa lebih banyak hari-hari sepi. Pengunjung membludak hanya di hari-hari libur saja. Dan Indonesia sangat “pelit” dalam memberi libur anak sekolah, apalagi buruh dan karyawan.

Wisata yang seperti banjir musiman seperti itu juga tidak ramah lingkungan. Tiba-tiba terpaksa sejumlah besar tanaman ditebang untuk dijadikan parkiran, yang di kebanyakan hari akan kosong. Demikian juga sampah tiba-tiba menggunung.Pada beberapa tempat yang mendapatkan pengunjung lebih kontinyu, yang datang tak cuma pengunjung yang akan membelanjakan uangnya, tetapi ikut juga “wisatawan-kriminal”, dari tukang copet sampai pencuri kendaraan bermotor. Bahkan pada objek wisata yang telah berpenginapan, penjaja seks komersial, minuman keras dan narkoba pun ingin ikut meraup penghasilan.Sudah saatnya dibuat portal informasi pariwisata yang dapat mengoptimalkan fenomena ini. Desa-desa pemilik objek wisata bila perlu bisa membatasi jumlah pengunjung dengan sistem quota. Sistem ini selain akan mengurangi dampak buruk pada kehidupan sosial dan lingkungan, juga akan mendorong orang untuk berkunjung secara terrencana, sehingga kunjungan akan berkelanjutan (sustainable). Banyak tempat wisata di New Zealand yang sudah menerapkan sistem quota ini.

Akses jalan yang sebagian masih sulit dapat dibiarkan saja, selama atraksi dan amenities di tempat tujuan tetap bernilai. Bahkan ada studi yang menunjukkan bahwa lama kunjungan (dan berarti uang yang dibelanjakan) sering justru lebih panjang pada tempat yang relatif sulit diakses.Lebih dari itu kita ingin pariwisata yang juga meninggalkan inspirasi. Dan negeri ini sebenarnya kaya inspirasi. Ada yang akan berkesan untuk menghargai kearifan lokal, kehidupan beragama, sampai bagaimana merawat kesehatan. Maka meski ada ribuan tempat yang memiliki air terjun, mereka bisa mengembangkan inspirasi yang berbeda. Cerita rakyat atau kepahlawanan lokal dapat diangkat untuk dijadikan sumber inspirasi, sehingga dunia pariwisata tanah air akan bergairah lagi. Bahkan dengan mematuhi protokol kesehatan, kita tidak harus menunggu berakhirnya pandemi.

Sumber : (Harian Kedaulatan Rakyat – Yogyakarta, 14-Juli-2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here