Home Uncategorized “HOW DEMOCRACIES DIE?” Jawabannya: Beri Kesempatan Khilafah Memimpin Dunia

“HOW DEMOCRACIES DIE?” Jawabannya: Beri Kesempatan Khilafah Memimpin Dunia

12
0

HILMI.ID, Oleh : Dr. R.D. Muhammad Danial*)

BUKU PANDUAN BAGI PEJUANG DEMOKRASI

Mungkin tulisan ini sedikit terlambat ya. Saya yakin sudah banyak orang yang membaca buku yang sedang viral saat ini dengan judul “How Democracies Die?” yang ditulis oleh dua orang professor ilmu pemerintahan (dan politik) dari Harvard University dan sekaligus pejuang demokrasi yaitu Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Kenapa saya sebut pejuang demokrasi, karena nampaknya kedua guru besar ini menulis buku tersebut memang untuk mengajak semua orang menyelamatkan demokrasi dari ancaman. Jadi, buku tersebut sepertinya lebih tepat disebut sebagai buku panduan bagi para pejuang demokrasi di dunia. Yaitu panduan bagaimana caranya menyelamatkan demokrasi dari berbagai ancaman atau menghidupkan kembali demokrasi yang telah mati.

Tidak kalah dengan buku berjudul “How Democracies Die?” yang sedang viral, diskursus tentang pertanyaan “How The New Caliphate Arises?” pun tidak kalah viral. Tidak bermaksud ingin membuat buka serupa, pertanyaan “How The New Caliphate Arises?” ini telah memiliki banyak jawaban dalam berbagai judul buku yang telah diterbitkan dalam berbagai Bahasa di dunia termasuk berbahasa Indonesia. Dan yang paling penting, buku-buku tersebut rujukannya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang berbeda dengan buku-buku tentang demokrasi. Ingin tahu bukunya, silahkan browsing sendiri ya!

Fokus dulu pada demokrasi, buku yang terbit tahun 2018 silam tersebut menjelaskan tentang bagaimana demokrasi bisa dimatikan. Biasanya demokrasi mati dengan cara “dipaksa” yaitu dengan cara kudeta militer atau cara-cara lain semisal revolusi. Buku tersebut menjelaskan lagi bahwa ada cara lain yang lebih halus untuk membunuh demokrasi yaitu dimulai dari pemilihan umum yang “demokratis” (atau dianggap demokratis) untuk memilih penguasa di suatu negara. Setelah terpilih para penguasa tersebut menjalankan pemerintahannya seperti biasa. Para penguasa yang baru terpilih tersebut mulai menafsirkan konstitusi atau bahkan merombaknya, kemudian mematikan daya kritis institusi-institusi utama yang rawan mengkritisi pemerintah seperti lembaga peradilan dan pers. Selain itu, untuk mempertahankan kekuasaannya, penguasa tersebut mulai menjatuhkan lawan mereka dengan cara mengkriminalisasi, mengcounter kritikan lawan di media (mungkin menganggap kritikan tersebut sebagai hoaks dengan menggunakan hoaks), membuat teori konspirasi tentang oposisi, dan mempermasalahkan keabsahan suara yang menentang mereka. Buku ini mencontohkan kejadian ini seperti yang dilakukan Vladimir Putin di Rusia, Erdogan di Turki, Viktor Orban di Hungaria, Nicolas Maduro di Venezuela dan Nerendra Modi di India.

Buku tersebut memberikan pula panduan bagaimana caranya untuk menyelamatkan demokrasi dari ancaman-ancaman tersebut. Misalnya dengan cara melakukan persekutuan melawan penguasa otoriter diantara partai-partai yang menjadi arus utama. Seperti yang terjadi di Belgia tahun 1930, partai Katolik sayap kanan bersekutu dengan kelompok liberal; persekutuan partai-partai sayap kiri dan kanan di Jerman setelah perang dunia ke-2; dan persekutuan Demokrat Kristen dengan Sosialis di Chile yang akhirnya bisa mengalahkan rezim Augusto Pinochet tahun 1989.

WAKTUNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA

Saudara-saudaraku, Demokrasi saat ini sedang memimpin Dunia. Ketika bicara Demokrasi yang merupakan sistem pemerintahan yang lahir dari ideologi Kapitalisme, maka bagi seorang muslim pasti (dan seharusnya) kita akan ingat Khilafah yang merupakan sistem pemerintahan yang lahir dari ideologi Islam. Khilafah yang dimulai sejak wafatnya Baginda Rasulullah Muhammad Saw pada Senin 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah atau 8 Juni 632 Masehi, telah runtuh secara resmi tanggal 3 Maret 1924 melalui konspirasi jahat orang-orang yang menolak dan sangat membenci Khilafah. Demokrasi yang lahir pertama kali pada abad 5 SM dan bangkit kembali dari kematiannya pada abad 18 (yang sebenarnya bukan kelahiran demokrasi tapi kemenangan kaum borjuis kapitalis atas aristokrat tuan tanah), dan kemudian mengalami koma hingga saat ini, sudah tidak layak lagi untuk memimpin dunia. Sistem pemerintahan seperti apa yang layak memimpin dunia, jawaban seorang muslim yang beriman pasti adalah KHILAFAH.

Alasan Khilafah layak memimpin dunia bukanlah sekedar karena romatisme sejarah, namun karena KHILAFAH adalah ajaran dari Allah SWT Tuhan yang merupakan satu-satunya yang layak kita sembah dan karena pengalaman memimpin Dunia selama 13 abad. Dimulai dari Khulafaurraasyidiin, dan kemudian kekhalifahan Umayyah (661-750 M), kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M), hingga kekhalifahan Utsmani (sd 1924).

Sebenarnya Allah SWT telah memperingatkan pemuja Demokrasi melalui lahirnya Islam yang dimulai dengan diangkatnya Nabi Muhammad Saw menjadi rasul dan mendirikan daulah Islam pertama di dunia tepatnya di Madinah pada bulan Juni 622 Masehi. Tahun 622 ini bersinggungan dengan abad pertengahan (dari abad 5 hingga 15 Masehi) yang merupakan abad kegelapan Eropa.

Islam masuk ke Eropa diawali masuknya Islam ke Maroko pada 680 M ketika Uqbah bin Nafi’ dari kekhalifahan Umayyah menjangkau utara Afrika. Kemudian dilanjutkan ketika Musa bin Nushair pada masa Al-Walid I bin Abdul Malik, khalifah keenam Bani Umayyah,  menaklukan benteng-benteng di dekat Samudera Atlantik. Pada saat itu, pasukan Islam menyebut wilayah Maroko dengan nama Maghreb Al-Aqsa atau Far West. Dari negeri yang berjuluk ‘Tanah Tuhan’ inilah panglima tentara Muslim, Tariq bin Ziyad menaklukan Andalusia dan mengibarkan bendera Islam di daratan Eropa tahun 710 M.

Sejarah peradaban Islam di Eropa di bawah kepemimpinan Thariq bin Ziyad, mampu bertahan dalam waktu yang begitu lama. Kehadiran Islam di Spanyol berlangsung lebih dari 780 tahun lamanya.
Bahkan beberapa dataran Eropa seperti Sisilia dan Italia bagian selatan berada di bawah kekuasaan Islam dari abad ke 9 hingga abad ke 11. Peristiwa ini dikabarkan dalam tulisan Thomas Schmidinger (2011: 99) yang berjudul  “Looming Shadows”. Setelah Islam datang, peradaban Eropa sangat maju yang berbeda dengan sebelum datangnya Islam. Peradaban Eropa berkembang dan maju tentu bukan karena Demokrasi.

Semua kejayaan peradaban Barat tidak pernah luput dari jasa dan kontribusi besar para ilmuwan Muslim pada abad pertengahan. Dan hal ini tidak bisa dibantah dengan alasan apapun. Umat Muslim telah lebih dulu mencapai puncak kejayaannya pada abad pertengahan yang di Eropa adalah abad kemunduran yang sangat. Abad pertengahan terkenal dengan kehidupan penuh konflik berdarah dan juga kehidupan kesehatan yang sangat buruk karena abad tersebut Eropa benar-benar tidak tahu kebersihan, hidup higienis dan sanitasi yang baik. Pada abad ini terjadi wabah penyakit “Black Death” (karena warna kulit penderita berubah menjadi hitam) yang membunuh hampir setengah populasi Eropa, yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut ditularkan dari tikus ke manusia melalui gigitan kutu yang terinfeksi. Tidak hanya wabah, di Eropa waktu itu terjadi kelaparan karena teknologi pertanian yang buruk sehingga ketersediaan bahan pangan sangat tipis. Kejadian lainnya adalah kehamilan dan persalinan selalu ditakuti karena resiko kematian yang tinggi bagi ibu dan anak disebabkan teknologi kedokteran belum ada dan sangat tradisional. Literatur dunia mencatat bahwa istri ke-3 Raja Henry VIII, Jane Seymour, meninggal setelah melahirkan anak laki-laki mereka, Edward VI, pada tahun 1537. Anak-anak juga banyak yang meninggal (usia kira-kira 0 sampai 7 tahun) karena penyakit disebabkan kala itu pengetahuan tentang sanitasi sangat buruk, pengetahuan tentang manfaat ASI juga sangat bodoh. Kejadian lain adalah pertikaian dan persekusi antar agama dan kepercayaan yang berbeda hingga saling bunuh karena kurangnya toleransi, karena waktu itu satu-satunya kebenaran adalah Kristen, orang-orang Yahudi dan Muslim pun tidak layak untuk hidup. Raja Edward I juga sangat anti Yahudi sehingga mengusir semua orang Yahudi keluar dari Inggris pada tahun 1290. Umat Muslim pada masa itu juga tidak diizinkan masuk ke Spanyol, mereka hanya boleh tinggal di Spanyol jika masuk Kristen. Kejadian lainnya adalah jika orang melancong ke Eropa pada abad pertengahan, maka resiko terbunuh di jalanan sangat besar, makanan di penginapan pun jarang sekali ada, dan kalaupun ada selalu sering terjadinya keracunan. Orang hanya akan aman dan tersedia makanan jika menginap di biara-biara Kristen, hal ini disebabkan pengetahuan manajemen kota dan peraturan-peraturan kehidupan sosial sangat buruk. Kehidupan saling curiga yang berujung konflik dan kematian sudah biasa terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Agama yang dominan pada waktu itu tidak mampu mendidik masyarakat untuk bersikap husnudzan (berprasangka baik).

DEMOKRASI WAJIB DIBUANG, TIDAK MENOLAK KHILAFAH

Demokrasi yang berasal dari pemikiran para filosof Eropa waktu itu yang bukan dari Islam, wajib kita (sebagai muslim) buang sejauh-jauhnya. Kenapa? Isi sebagian kecil isi kitab Taurat yang asli saja (yang merupakan wahyu Allah kepada Nabi Musa As) membuat Rasulullah Saw marah kepada Umar Bin Khattab ra. Umar bin Khathtab, sebagaimana dituturkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad dari sahabat mulia Abdullah bin Jabir, baru saja mendatangi salah satu keturunan Yahudi Bani Quraizhah, di Madinah. Dari sahabatnya itu, Khalifah kedua kaum Muslimin ini mendapatkan potongan ayat Taurat yang asli. “Ia,” tutur Umar dengan nada riang, “menuliskan beberapa kalimat  singkat, tapi padat maknanya.” Izin Umar kepada Nabi, “Bolehkah aku memberikannya kepadamu, ya Rasulullah?”. “Aku,” kisah Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu yang menyaksikan kejadian amat penting ini, “melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung berubah!”. “Tidakkah engkau?” tanya Jabir kepada Sayyidina Umar bin Khaththab, “melihat perubahan wajah (memerah, menahan amarah) Rasulullah?”. Menyadari kekeliruannya itu, Sayyidina Umar segera mengucapkan kalimat agung yang amat masyhur ini, “Saya rela Allah Ta’ala sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagain Nabiku.” Tunai mendengar pengakuan Umar, Jabir menuturkan, “Maka hilanglah kemarahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda, ‘Demi Allah Ta’ala yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika Musa berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, niscaya kalian sesat. Sungguh, kalian adalah umat yang menjadi bagianku dan aku merupakan Nabi yang menjadi bagianmu.’”

Bagaimana kira-kira respons Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika beliau berada di tengah-tengah kaum muslimin saat ini? Padahal Umar, berdasarkan riwayat di atas, hanya hendak mengkonfirmasi kebenaran kalimat dalam kitab Taurat tersebut dan tidak sedikit pun menafikan isi dan makna al-Qur’an. Bagaimana dengan Demokrasi? Sebagian isi kitab Taurat aja membuat Nabi marah, apalagi sekedar Demokrasi. Sudah waktunya dibuang jauh-jauh dari kehidupan kaum muslimin. Namun ironisnya adalah banyak kaum muslimin yang menjadi pejuang Demokrasi dan menolak Khilafah. Mungkin sekarang banyak ya yang menjadi mengikut Musthafa Kamal Attaturk. Wallahu a’lam.

*) Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here