Home Uncategorized ASSET INSTAGRAMABLE

ASSET INSTAGRAMABLE

9
0

HILMI.ID, Oleh : Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar

Pakar Geospasial, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE)

Sejak ponsel pintar terjangkau bagi banyak orang, dan di internet tersedia situs berbagi foto “Instagram”, maka pariwisata di negeri ini booming. Nyaris setiap desa berinovasi membangun atraksi wisata, yang setidaknya dapat menarik wisatawan domestik untuk berswafoto. Dan ketika keindahan di suatu tempat menjadi viral, maka aliran wisatawan ke sana semakin membanjir. Ekonomi rakyat muncul, dan ada pemasukan ala kadarnya ke kas desa.

Semua ini diharapkan bukan sekedar fenomena musiman, namun berkelanjutan. Sebaiknya kunjungan wisatawan tidak langsung melonjak tinggi yang dapat memicu kemacetan atau bahkan persoalan di tujuan wisata. Kita juga berharap lebih banyak investor yang mengelola tempat-tempat menarik itu secara berkelanjutan.

Perlu kita tahu, jauh sebelum era Instagram, banyak tempat-tempat eksotis di Nusantara ini justru dikelola investor asing. Investor domestik sering kesulitan mendapat dukungan permodalan. Bank-bank nasional ragu dengan feasibility proyek ini. Investor domestik juga sering tak punya agunan. Akibatnya, sebagian besar tempat wisata eksotis di tanah air ini, dikuasai asing. Sebuah keterlanjuran yang mahal.

Gambarannya begini. Ada sebuah resort super indah di Nusa Tenggara Timur. Investor merogoh Rp 50 Milyar untuk membangunnya. Termasuk di dalamnya infrastruktur (jalan, listrik, penjernih air, sanitasi), juga sarana ibadah dan kesehatan untuk penduduk lokal. Di proposal, mereka menjanjikan membuka lapangan kerja bagi 100 penduduk di sekitarnya. Ijin dari pemda setempat berlaku 30 tahun. Tanah dipinjamkan nyaris gratis. Tinggal bayar PBB saja. Siapa melewatkan peluang ini?

Hasilnya, terbangun 50 paviliun. Masing-masing 2 kamar dengan 2 tempat tidur. Cukup untuk 200 orang. Wisata ini dibandrol dengan tarif US$ 50 per pax di luar tiket pesawat. Sangat murah untuk ukuran orang Australia, Jepang atau Eropa. Dan sebelum pandemi, tingkat hunian 80%. Bila dihitung, resort itu mendapatkan US$ 8000 / hari. Setelah dipotong untuk operasional dan aneka pajak, pendapatan bersih setidaknya US$ 5000/hari, alias Rp. 70 juta /hari. Tak sampai 2 tahun, mereka balik modal (BEP). Ingat, konsesinya 30 tahun! Dengan UU Cipta Kerja, konsesi ini bisa diperpanjang hingga total 90 tahun!

Apa sebenarnya sumber kekayaan ini? Ternyata bukan tanah, sumberdaya mineral, bangunan, ataupun alat dan mesin. Tetapi Pemandangan! Inilah yang kini kita sebut “Asset Instagramable”. Ini asset tak berwujud. Bisakah pemandangan kita masukkan sebagai aktiva dalam neraca keuangan? Andaikata bisa, maka pemda bisa minta agar semua investasi pariwisata ini memberikan pada mereka 50% saham.

Di sekitar Pulau Komodo banyak pulau-pulau kecil telah disewa untuk resort. Sebelum pandemi, teman yang orang Indonesia dan tinggal di Wina puluhan tahun, sering mengorganize wisata dari Eropa ke Pulau Rote, Alor dan sekitarnya. Utamanya untuk snorkeling dan diving. Reservasi, 6 bulan sebelumnya.

Realita yang cukup menggiurkan, bila pemda memiliki saham. Dapat untuk membantu rakyat yang kekurangan air bersih, malnutrisi, atau merenovasi fasilitas pendidikan agar layak kembali. Dengan laba hanya separuhnyapun, para investor itu akan balik modal dalam 4 tahun. Apalagi bila sebelum BEP, pemerintah daerah merelakan hak bagi hasilnya. Namun selanjutnya, keuntungan yang jauh lebih besar akan terus mengalir selama resort itu laku. Selama pemandangan eksotis itu masih menarik untuk dikunjungi. Selama rakyat merawatnya.

Dengan menjadikan pemandangan sebagai asset, dan rakyat ikut mengawasinya, maka pariwisata itu akan berkelanjutan. Investor juga tak akan dibiarkan mengembangkan secara ugal-ugalan. Pemerintah daerah tidak mencukupkan diri dengan dibangunnya infrastruktur lokal, atau dibukanya job untuk 100 orang, karena sumberdaya terbesar milik bersama dalam hal ini adalah pemandangan. Itu kurnia Tuhan yang spesifik di lokasi mereka, yang dititipkan untuk generasi mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here