WISATA TANGGAP BENCANA

41
0

HILMI.ID, Oleh : Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar

Pakar Geospasial BIG_

Mulai Senin 19 Oktober 2020 lalu wisata “Nepal Van Java” di Dusun Butuh, Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah tutup sementara. Konon ada penataan dari desa agar ke depan baik wisatawan maupun warga desa sama-sama merasa nyaman. Tidak dapat diingkari bahwa wisata di masyarakat kita masih ‘angin-anginan”. Media sosial membuat sebuah tempat wisata baru cepat sekali menjadi topik trending nasional, sehingga kunjungan wisatawan bisa melejit jauh di atas daya dukung tempat itu. Akibatnya justru wisatawan sendiri juga mengalami kesulitan, karena jalanan macet, tempat parkir sulit, dan mendapatkan toilet di lokasi pun tidak mudah. Walhasil, sampah juga menggunung, dan warga biasa di lokasi terganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Pariwisata dapat menjadi “bencana”.

Sementara itu, banyak lokasi pariwisata dengan pemandangan menarik sesungguhnya terletak di kawasan rawan bencana. Seperti Nepal van Java sendiri terletak pada lereng yang cukup terjal yang sesungguhnya rawan longsor. Hal sejenis juga terjadi di pantai-pantai selatan Pulau Jawa. Mereka rawan tsunami! Beberapa waktu yang lalu peneliti tsunami dari BPPT, LIPI dan ITB menjelaskan bahwa tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur. Setelah kejadian tsunami di Anyer, BMKG juga tak lagi menutup-nutupi ancaman bencana itu. Tsunami itu bisa terjadi jika potensi energi gempa megathrust di daerah subduksi di selatan Jawa terlepas. Kapan itu? Tentu saja tidak ada yang tahu. Meski baru-baru ini tim riset nuklir UGM mengabarkan penemuan alat prediksi gempa dengan teknik deteksi perubahan konsentrasi gas radon, tetap saja mereka tidak bisa mencegahnya. Gempa harus ditanggulangi dengan menghindari zona paling rawan, semisal persis di atas garis sesar, dan dengan konstruksi bangunan yang tahan gempa. Persoalannya, konstruksi semacam ini sering dinilai terlalu mahal, atau kurang ramah dengan ekosistem kita yang banyak sinar matahari (sehingga panas) dan juga hujan (sehingga lembab).

Dengan demikian, paradigma kita dalam mengembangkan tempat pariwisata, baik di pegunungan maupun di pantai wajib dilengkapi dengan kesadaran bahwa bencana mudah menghampiri. Untuk mengantisipasi longsor di pegunungan, maka daerah-daerah wisata di zona rawan longsor perlu melakukan penghijauan yang massif di arah hulu. Selain itu juga perlu pemantauan yang terukur dengan peralatan geoteknik dan citra satelit. Termasuk yang harus dipantau adalah jalan akses menuju tempat itu. Akses jalan yang terputus adalah momok terhoror bagi suatu area wisata.Di lereng gunung berapi seperti di Kaliurang, bahkan perlu dipikirkan jalur evakuasi bila terjadi erupsi, yang aman dari terjangan awan panas maupun lahar. Saat ini BPBD Sleman bahkan sudah membangun sistem peringatan dini yang akan mengirim alarm pada smartphone di daerah rawan yang telah terpasang aplikasi, sehingga setiap perubahan status bahaya gunung api langsung diberitahukan kepada wisatawan di lapangan.

Sedang di kawasan pantai, tempat-tempat evakuasi tsunami yang terjangkau dalam 10 menit wajib dibangun. Selain itu konstruksi tahan gempa wajib diterapkan di zona rawan, terutama untuk bangunan publik. Tsunami drill juga perlu kembali dilakukan. Sayang jika ini cuma dilakukan ketika masih ada bantuan dari NGO asing yang melakukan pemberdayaan masyarakat.Namun di sisi lain, mungkin perlu juga dibuka “Wisata Bencana”. Jadi memang kegiatan wisata untuk melihat bencana dari dekat, mencari hikmah yang dapat diambil, sekaligus memberi bantuan kepada korban bencana. Tentu saja jumlahnya perlu dibatasi, agar tidak terkesan mengeksploitasi korban bencana. Untuk itulah diperlukan pemandu yang terlatih dan memahami filosifi penanggulangan bencana. Dan tak cuma di era pandemi, wisata bencana ini bisa pula dilakukan secara online.

Sumber : Harian Kedaulatan Rakyat, 30 Oktober 2020

_Dalam al-Qur’an ada dorongan untuk melakukan “wisata” tadabbur bencana._

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka. … (Qs. 30:9)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here