Home Gadgets MENGUAK TIDAR, LEGENDA DAN FAKTA

MENGUAK TIDAR, LEGENDA DAN FAKTA

32
0
HILMI.ID, Oleh : Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar
Pakar Geospasial, Pemerhati Magelang
 
Gunung Tidar di Magelang adalah bukit paling terkenal di Indonesia. Ini tak cuma karena di sana ada Akademi Militer, namun juga karena mitos bahwa Gunung Tidar adalah “pakunya Pulau Jawa”.
 
Kata sahibul hikayat, dulu pulau Jawa miring ke barat, karena ada gunung raksasa di sana. Kemudian para dewa rapat dan lalu sepakat meletakkan ulang gunung itu agar merata di pulau Jawa. Singkat cerita akhirnya di atas pulau Jawa berderet gunung-gunung. Dan Tidar yang merupakan inti gunung yang asli jatuh tepat di tengah pulau Jawa.
 
enarkah titik tengah (centroid) pulau Jawa adalah Gunung Tidar? Berdasarkan analisis geospasial, hal itu tidak terbukti. Centroid Pulau Jawa ada di daerah Wonosobo! Tapi tak apalah. Tugu “Pakunya Pulau Jawa” di puncak Tidar tidak perlu dipindah.
Berdasarkan kajian geologi, gunung ini berada di tengah dataran. Tingginya hanya sekitar 100 meter dari sekitarnya. Patut diduga, gunung ini dulu adalah muntahan lumpur (mud-volcano), semacam yang sedang berproses di Sidoarjo. Namun perlu kajian geofisika dengan alat seismik atau Ground Penetrating Radar (GPR) untuk mengetahui struktur batuan di dalamnya.
 
Di zaman Belanda dulu, konon pernah ada kebakaran besar di Gunung Tidar yang berakibat gunung ini gundul. Tinggal semak-semak yang ada. Baru akhir 1960-an dan awal 1970-an dilakukan penghijauan masif, bahkan melibatkan anak-anak sekolah. Kini Gunung Tidar lebih mirip hutan tropis sesungguhnya. Pepat sekali, kecuali di jalur pendakian yang diberikan, serta ruang terbuka di puncaknya yang relatif datar. Memang begitukah wajah gunung Tidar tempo dulu? Maestro cerita KR Ki SH Mintardja dalam “Nagasasra Sabukinten” menjadikan Gunung Tidar sebagai sarang tokoh golongan hitam “Simo Rodra”.
 
Dalam sejarah Jawa, yang paling jauh hanya dapat disusuri dari Babad Tanah Jawi yang ditulis di awal abad-19, existensi Gunung Tidar tidak disebut-sebut. Tapi tidak masalah, Candi Borobudur juga tidak disebut. Apalagi kaitan Borobudur dengan Nabi Sulaiman seperti dalam imajinasi Fahmy Basya.
 
Ketika Sir Stamford Raffles berkuasa, dia menemukan kembali Candi Borobudur yang sudah tertutup abu hampir seribu tahun. Borobudur adalah batuan intrusi yang susah air. Masyarakat setempat sudah tak ingat lagi bahwa ada candi di sana. Mungkinkah Gunung Tidar sebenarnya adalah candi juga?
 
Namun sebuah candi di manapun, termasuk pyramid, hampir selalu berbentuk simetri dan berorientasi pada meridian utara-selatan. Mereka hakekatnya adalah bangunan yang memperhatikan aspek astronomis secara teliti. Orang menyebutnya archeo-astronomic. Namun melihat bentuk Gunung Tidar saat ini, tampaknya jauh dari bentuk simetri dan orientasi seperti itu.
 
Benarkah ada garis imajiner dari Candi Prambanan sampai India melewati Gunung Tidar? Bisa saja. Tapi tergantung Indianya di mana? Bila dikaitkan dengan legenda Ramayana, kerajaan Sri Rama ada di India selatan (seberang Srilangka, kerajaan Rahwana). Kalau ke sana, garis itu dari Prambanan akan lewat Muntilan, jauh di selatan Gunung Tidar. Sedang bila dikaitkan dengan legenda Mahabarata, kerajaan Pandawa ada di India Utara. Kalau ke sana, garis itu dari Prambanan lewat Secang!
 
Di Gunung Tidar ada petilasan Syaikh Subakir. Syaikh ini konon datang ke tanah Jawa dalam rombongan awal Wali Songo saat berdakwah Islam. Tugas Syaikh ini adalah meruqyah tanah Jawa yang banyak dikuasai jin. Namun jejak sejarah dakwah Syaikh Subakir di Magelang belum banyak diketahui.
 
Mungkin sudah saatnya, Pemerintah Kota Magelang mengadakan “Pekan Aktivitas Ilmiah Tidar (PAIT TIDAR)”. Atau bahkan mendirikan Tidar Research Center (TRC) dengan aktivitas riset geofisika maupun sejarah Tidar.
Setidaknya bagi kota Magelang, “Wisata Tidar” dapat menjadi tawaran yang menarik selain Taman Kyai Langgeng.
 
Sumber : Harian Kedaulatan Rakyat, 19 September 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here