Home Vogue ILMU “VAKSIN” DARI OTTOMAN

ILMU “VAKSIN” DARI OTTOMAN

14
0

HILMI.ID, Oleh : Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar (Peminat Sejarah Peradaban)

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa vaksin Corona dari Tiongkok telah tiba. Presiden Jokowi ingin vaksin itu segera dipakai. Namun Prof Kusnandi, ahli vaksin dari Gugus Tugas Covid-19 mengatakan, vaksin itu baru lolos uji klinis fase-1 dan fase-2 di Tiongkok. Efektivitasnya untuk orang Indonesia masih harus dibuktikan dalam uji klinis fase-3, agar dapat dilihat, seberapa lama vaksin tersebut benar-benar membuat manusia kebal terhadap virus nCov-2019 dan apakah ada efek sampingnya?
Lawan politik Presiden Jokowi menuduh upaya ini berarti menjadikan orang Indonesia sebagai kelinci percobaan. Mereka juga usul agar vaksin itu diujikan saja pada Presiden, anggota Kabinet dan Anggota DPR beserta keluarga dan pendukungnya.
Tentu saja tidak demikian. Sample uji klinis suatu vaksin baru itu harus orang sehat yang dipilih dengan metode tertentu. Mereka juga bukan kelinci percobaan, tetapi orang-orang yang diminta persetujuannya dan bahkan mendapatkan kompensasi finansial yang pantas. Dengan cara itu, dunia terus mendapatkan obat atau vaksin baru.
 
Vaksin adalah metode kedokteran preventif untuk mencegah penyakit, terlebih penyakit yang sangat menular, dan upaya kuratifnya sangat mahal serta sering gagal atau meninggalkan cacat permanen. Berbeda dengan kekebalan umum atau ketahanan fisik secara keseluruhan, vaksin ini bekerja terhadap penyakit yang spesifik. Kekebalan umum bisa didapat ketika anak balita mendapatkan Air Susu Ibu yang cukup. Namun kekebalan spesifik hanya didapat bila orang pernah mendapat serangan penyakit infeksi tertentu dan selamat, sehingga sel-sel tubuhnya telah “mengingat” ciri-ciri dari virus atau bakteri yang pernah menyerangnya.
 
*Evidence Based Medicine*
 
Peradaban Islam meninggalkan metode ilmiah yang pasti dalam dunia kesehatan, yang disebut Evidence Based Medicine (EBM). Muhammad ibn Zakariya ar Razi (865-925 M) memulai eksperimen terkontrol dan observasi klinis, menolak beberapa metode Galen dan Aristoteles yang hanya dibangun dengan filsafat, tanpa eksperimen yang dapat diverifikasi. Ibnu Sina juga meletakkan aturan dasar dalam uji klinis atas suatu obat.
 
Secara umum, sebuah obat dikatakan manjur dengan segala racikan dan dosisnya setelah terbukti memang menyembuhkan sebagian besar pasien (misal 75%), sedang pasien pembanding yang hanya diberi placebo (mirip obat namun tanpa zat berkhasiat) hanya sebagian kecil yang sembuh (misal 5%). Bahwa mungkin masih ada 25% pasien yang tidak sembuh, itu wajar, apalagi dibandingkan dengan 95% pasien yang tidak sembuh dengan placebo. Tentu saja para ahli farmasi akan berjuang untuk meningkatkan prosentase daya sembuh obat. Namun ada banyak faktor lain yang berperan pada kesembuhan. Dan secara imani, kesembuhan itu adalah hak prerogatif Allah, sebagaimana juga hanya Allah yang tahu hikmah atas penyakit bagi seseorang.
 
Sebuah obat dikatakan tidak manjur ketika akibatnya hampir tak bisa dibedakan dengan placebo, misal yang sembuh sama-sama hanya 5%. Bagi dukun alternatif yang tidak menerapkan EBM, mungkin yang 5% sembuh ini yang akan diminta testimoni untuk menjadi bahan promosi. Sedang 95% yang tidak sembuh akan dihibur dengan kalimat “Bukankah kesembuhan itu dari Allah?”.
 
Prinsip sejenis diterapkan ketika umat Islam mulai mempelajari pencegahan penyakit menular dengan vaksin. Pencegahan penyakit menular jadi lebih dari sekedar isolasi penderita sebagaimana yang disarankan dalam hadits. Tentu saja, selama vaksin belum ditemukan, atau belum teruji efektif, isolasi (lockdown) adalah satu-satunya cara menghadapi pandemi. Capaian ilmuwan Islam dalam vaksinasi diberitakan oleh Lady Mary Montagu, istri dubes Inggris di Istanbul, yang pada 1 April 1717, menulis surat kepada temannya bahwa di Istanbul ada “advanced inoculation”. Itu “state of the art” menangkal penyakit cacar.
 

Dalam ensiklopedia disebutkan bahwa _inoculation is a set of methods of artificially inducing immunity against infectious diseases. The practice originated in the East before being imported to the Western world. The terms inoculation, vaccination, and immunization are often used synonymously, but unsimilar._Namun Inggris masih memerlukan waktu hampir 80 tahun untuk mengembangkan metode ini lebih lanjut, sampai Dr. Edward Jenner mentuntaskan penemuan vaksin cacar pada 1796. Vaksinasi adalah proses memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh untuk mengaktifkan sistem kekebalan yang sebenarnya sudah ada didalam tubuh tapi belum aktif. Perlu setidaknya banyak tahapan sehingga vaksin dapat diedarkan ke masyarakat. Tahap pertama uji in vitro (di cawan eksperimen) pada tataran sel. Kedua uji in vivo (di tubuh hewan eksperimen) mulai dari tikus, kelinci atau monyet. Ketiga adalah uji klinis pada manusia.

Uji klinis inipun setidaknya ada tiga fase. Fase pertama untuk melihat pembentukan antibodi. Fase kedua untuk melihat efek samping (semisal pada pengidap alergi). Fase ketiga pada sejumlah besar manusia di negeri yang masih ada pandemi untuk melihat efektifitas vaksin dan jangka waktu kekebalan. Perlu ribuan sampel orang sehat yang mewakili populasi.Suatu tahap atau fase baru dilakukan bila tahap atau fase sebelumnya telah lulus. Jadi uji vaksin yang akan dilakukan di Indonesia ini dilakukan bukan karena di Cina kehabisan monyet. Vaksin ini sudah lulus uji klinis fase 1 dan 2 di sana. Namun efektifitas untuk kondisi Indonesia perlu dibuktikan.

Idealnya memang negeri ini memiliki swasembada vaksin. Para peneliti di LIPI atau Eijkman juga sebenarnya berlomba untuk menciptakan vaksin. Kita belum tahu apakah mereka bisa menang dalam adu cepat dengan Sinovac yang memiliki modal jauh lebih besar.Kadang-kadang pemerintah memang harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Menerapkan vaksin temuan asing (walaupun lalu diproduksi di Indonesia) untuk melindungi warga, atau menunggu lebih lama agar dapat menerapkan vaksin buatan anak bangsa, dengan resiko terlambat mengatasi wabah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here