Home Travel Dilema Unggas

Dilema Unggas

8
0

Oleh : Jojo (Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia l Mahasiswa Doktoral Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor)

HILMI.ID – Perunggasan merupakan industri yang berperan penting dan  layak diperhitungkan guna menopang struktur perekonomian Indonesia. Terbukti, sektor ini mampu menyumbang 65 % sumber protein hewani di Indonesia  serta memiliki nilai ekonomi tinggi mencapai Rp 430 triliun. Masa depan bisnis ini dinilai  cerah, dengan investasi yang besar,  sejalan dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan asupan gizi seimbang dan meningkatnya taraf ekonomi masyarakat.

Derasnya arus urbanisasi, juga momentum bonus demografi sudah didepan mata merupakan faktor lain pemicu meningkatnya konsumsi produk asal unggas ini dari 53.3 persen ke 56.7 persen (2015-2020). Salah satu hasil dari produk unggas adalah daging. Secara ekonomi, harga produk ini terjangkau segenap lapisan msyarakat sehingga  daging ayam masih jadi primadona dibanding daging sapi, kambing ataupun susu.

Konsumsi daging ayam masyarakat meningkat tiap tahun. Mengacu data potensi produksi daging ayam  Dirjen PKH Kementrian Pertanian pada 2019 sebesar 3.829.664 ton, maka konsumsi daging ayam perkapita masyarakat Indonesia sebesar 14.24 kilo gram (kg), dengan asumsi populasi penduduk sejumlah 269 juta jiwa.

Kenaikan tingkat konsumsi  tersebut didukung dengan peningkatan tingkat kesadaran masyarakat akan asupan gizi berkualitas. Selain itu,  perubahan tingkat urbanisasi juga turut mendorong perubahan gaya hidup masyarakat. Mereka  menuntut sesuatu serba cepat dan instan. Hal ini terjawab dengan adanya aplikasi  smart phone  yang turut andil mempermudah akses  melakukan transaksi online makanan siap saji.

Pendapatan masyarakat semakin meningkat, menggeser prilaku mereka termasuk cara memilih makanan. Mereka beralih  dari biasanya hanya belanja makanan pokok (staple food) dari komoditas kualitas rendah menjadi komoditas kualitas tinggi seperti daging. Alhasil, pesatnya peningkatan konsumsi daging ayam turut didukung oleh  pesatnya industri pertumbuhan pengolahan di sektor hilir seperti makanan cepat saji, hotel, restoran dan katering (horeka) serta super market yang menjual daging ayam dalam beragam pilihan.

Perubahan preferensi konsumsi masyarakat Indonesia ini mendorong pelaku industri perunggasan meningkatkan kapasitas produksi maupun daya saing yang diikuti peningkatan produktivitas, daya tahan, dan modernisasi setiap rantai produksinya. Celakanya secara internal perunggasan Indonesia khususnya perunggasan rakyat/mandiri masih terkendala kualitas dan kuantitas input: mahalnya harga day old chick (DOC) terbatasnya akses permodalan, harga pakan (jagung) yang tinggi, dan ancaman penyakit.

Permasalah klasik sisi produksi perunggasan kita yakni belum mampu mencapai prinsip skala ekonomi (economies of scale). Peningkatan produksi dengan penurunan biaya produksi. Imbasnya, selama 17 bulan terakhir mengalami kerugian (Republika, 20/1/20). Hal ini terjadi akibat faktor pendukung lain masih terabaikan para pelaku ekonomi sektor perunggasan. Jika kondisi ini dibiarkan, maka industri unggas akan kehilangan daya saing, produktivitas dan daya tahannya.

Disadari tanpa peningkatan daya saing, lambat laun akan tergerus pasar dari pesaing lokal, regional ataupun global yang harga dan kualitas jauh lebih menjanjikan. Upaya peningkatan daya saing  tidak cukup hanya melihat  produksi ayam hidup saja, tetapi juga kualitas. Selama  ini fokus pada pembenahan sisi supply, membuat mayoritas pedagang didominasi ayam hidup. Jika tujuannya ingin mencapai stabilitas harga maka dirombak juga paradigma lama.  Kita  tidak hanya bicara volume produksi saja  tapi juga peningkatan kualitas serta nilai tambah jadi penting dan mendesak.

Fluktuasi harga dalam waktu lama  jadi sandungan disebabkan keterbatasan  input bahan pakan pokok (jagung). Jagung menyusun 65 % dari biaya formulasi pakan sehingga tingginya harga jagung menimbulkan peningkatan harga pokok produksi (HPP) yang berakibat terkereknya  harga HPP ayam. Hal ini tidak hanya menyebabkan fluktuasi harga tetapi juga berdampak pada lemahnya tingkat persaingan sektor perunggasan nsional terhadap produk unggas impor.

Sistem Rantai Dingin

Penyakit merupakan momok  serius pada industri unggas. Di negara maju, kontrol penyakit dilakukan dengan regulasi yang melarang pemasaran ayam dalam bentuk hidup sehingga produk yang beredar sudah dalam bentuk beku (frozen). Diperlukan logistik yang mendukung sistem rantai dingin guna menjaga kualitas daging. Sistem ini memerlukan gudang pendingin (cold storage) guna menstabilkan pasokan  maupun harganya. Teori dasar ekonomi menyebut, jika ketersediaan dan permintaan berimbang,  maka harga ayam akan terkendali. 

Sistem tersebut bukan tanpa masalah. Kendala  yang dihadapi dalam penerapan sistem ini  adalah  merubah preferensi masyarakat yang lebih nyaman memilih daging segar (hot carcass) untuk beralih ke daging beku. Kebiasaan  masyarakat Indonesia  cenderung memilih penjual ayam yang pemotongnya saat itu juga. Perlu peran serta pemerintah untuk memberikan pemahaman bahwa kualitas/kuantitas daging beku sama halnya daging ayam potong segar. Disini,  perlu penguatan regulasi  untuk memberhentikan paling tidak mengurangi perdagangan ayam hidup di pasar untuk mereduksi resiko wabah  penyakit zoonosis. Diharapkan dengan regulasi ini,  perusahaan mau  investasi pembangunan cold storage.

Penyebab fluktuasi yakni produksi berlebih sepanjang tahun. Upaya pemerintah dalam menstabilkan pasokan sudah tertuang dalam Permentan No 32/2017. Dijelaskan bahwa penyediaan ayam ras dan telur konsumsi dilakukan berdasarkan rencana produksi nasional dan keseimbangan produksi dan permintaan. Tinggal keseriusan dan komitmen dalam pelaksanaan dilapangan.

Adapun ancaman eksternal perunggasan nasional adalah kekalahan atas Brasil dalam sidang WTO silam. Negeri samba tersebut merupakan salah satu produsen ayam  dunia terkemuka yang  terus berupaya meningkatkan daya saingnya. Hasilnya saat ini Brasil menjelma jadi negara raksasa pengekspor produk unggasnya ke 150 negara. Bahkan  menurut World Top Export (WTEx) termasuk dari 5 negara terbesar  eksportir daging ayam beku  pada 2016 senilai US$5,9 miliar. Bahkan, menurut data hasil studi Biro Kebijakan Pangan dan Pertanian (BFAP) Afrika Selatan menyebut pada  2019, Brasil negara paling efesien dalam produksinya di tingkat kandang dibanding negara eksportir daging ayam lainnya.

Selain hal tersebut, langkah untuk mengatasi  gonjang ganjing industri perunggasan nasional (Muladno 2019), paling utama  dilakukan audit ayam parent stocknya (PS) secara total, serempak dan terencana. Atur secara ketat perkembangan ayam PS dalam negeri : kapan chick in, berapa lama pemeliharaan, strain yang digunakan, distribusinya, serta legal formal perusahaan. Beri mandat kepada tim provinsi dengan melibatkan perguruan tinggi setempat. Dalam hal ini pemerintah pusat bisa berperan sebagai quality control.

Selanjutnya sebagai bentuk layanan publik,  alokasikan anggaran yang cukup. Bangun sistem IT yang menjamin transparansi dalam industri perunggasan. Semua harus jelas, transparan, akuntabel, data bisa diakses dan  dipertanggung jawabkan kepada publik. Kemudian, buat regulasi yang kondusif, proporsional dan profesional serta hindari konflik kepentingan. Pelaku usaha fokus bisnis saja, pemerintah jadi wasit  yang adil, akademisi menjadi penjamin integritas berdasarkan kemampuan teknis dan strategisnya.

Sampai pada titik ini, semua pihak perlu bersatu menjaga kestabilan bisnis perunggasan, terutama perunggasan rakyat. Dorong kinerja perunggasan  efisien dan produktif sehingga dapat bersaing dengan produk luar. Hal tersebut perlu kelugasan dan komitmen pemerintah menegakan aturan main tanpa pandang bulu.

(Tayang di Koran Republika, 21/2/2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here