Home Internet Berapa Harga Nyawa Rakyat Indonesia ?

Berapa Harga Nyawa Rakyat Indonesia ?

0
5

Oleh : Dr. Ahmad Sastra, M.M. (Forum Dosen Muslim Peduli Bangsa)

HILMI.ID – Wabah coronavirus makin menyebar dan telah banyak merenggut nyawa rakyat di seluruh dunia. Dari laporan TV One tanggal 28 Maret 2020 tercatat bahwa coronavirus telah memapar 199 negara di dunia dan rakyat yang terinveksi sebanyak 601.478 jiwa. Sementara kematian yang tercatat di seluruh dunia sebanyak 28.299 jiwa dan sembuh sebanyak 130.587 pasien.

Di perancis, kematian akibat corona mencapai 1995 jiwa, sementara di Amerika, corona telah merenggut nyawa sebanyak 1.704 jiwa. Di Indenesia rakyat yang telah positif terpapar virus ini sebanyak 1.555 jiwa, meninggal 102 jiwa dan sembuh sebanyak 59 jiwa. Di RS Wisma Atlet bahkan ada 208 pasien yang positif terinfeksi corona.

Ada WNI yang terpapar corona di luar negeri sebanyak 109 orang. Di Spanyol penderita yang meninggal sebanyak 5.920. Di China (17/02/2020) sendiri sebagai sumber awal merebaknya virus telah menelan korban sebanyak 1.864 jiwa, sementara yang terinfeksi sebanyak 73.243 orang.

Betapa murahnya harga nyawa di tengah serangan wabah coronavirus ini. Keterlambatan oleh pemerintah seperti di Itali berakibat sangat fatal, ribuan nyawa melayang, bahkan sehari sampai mencapi 600 jiwa lebih. Jika pemerintah mengabaikan dan menyepelekan wabah corona, berarti menganggap nyawa rakyat itu tidak ada harganya.

Padahal satu nyawa rakyat adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di akherat, apalagi sampai ribuan nyawa. Di Indonesia pernah terjadi kematian lebih dari 700 jiwa akibat menjadi korban pemilu, namun sayangnya tidak diselidiki dan ditangani dengan baik. Betapa murah harga nyawa rakyat Indonesia dalam sistem kapitalisme demokrasi sekuler ini. Hal ini sangat berbeda dibanding dalam pemerintahan Islam.

Dalam pemerintahan Islam, seorang khalifah diberikan amanah berat untuk menjaga jiwa, harta, akal rakyatnya. Daulah Islam yang dipimpin Rasulullah dan para khalifah telah menjadi contoh betapa mereka sangat menjaga jiwa atau nyawa rakyatnya. Jangankan mati karena kepalaran, bahkan para khalifah sangat takut jika rakyatnya jatuh miskin.

Dalam sejarah kepemimpinan Islam, banyak pemimpin teladan, salah satunya adalah Said bin Amir al Jumhi. Dikisahkan suatu ketika delegasi pemerintah daerah Himsh datang menghadap Khalifah Umar. Himsh adalah sebuah wilayah di Syam yang masuk dalam pengawasan pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab. Gubernur Himsh bernama Said bin Amir al Jumhi. Khalifah Umar terkenal sifat pemurahnya, beliau selalu peduli dengan kaum fakir miskin yang menjadi rakyatnya. Delegasi itu diminta memberikan daftar orang-orang yang tergolong fakir miskin di daerahnya.

Diserahkanlah oleh delegasi itu kepada Khalifah Umar sebuah lembaran yang berisi daftar nama-nama orang yang tergolong fakir miskin. Yang menarik adalah terdaftarnya nama Said bin Amir al Jumhi sebagai orang miskin, padahal dia adalah gubernur daerah itu. Karena hampir tak percaya, maka Umar bertanya kepada delegasi siap gerangan Said dalam daftar tadi. Dijawab dialah Said bin Amir al Jumhi sang gubernur. “ Gubernur kalian miskin?”, tanya sang Khalifah. “ Ya demi Allah. Dapurnya sering tidak berasab dalam waktu yang lama”.

Mendengar cerita itu, Umar menangis tersedu-sedu sampai air matanya membasahi janggutnya. Sambil terisak Umar mengambil seribu Dinar (sekitar Rp. 600 juta ) lalu dimasukkan dalam satu kantong. Umar berkata sambil terisak ,” Sampaikan salamku kepada gubernur kalian, katakan Umar mengirimkan uang ini agar bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhanya”.

Sesampainya delegasi ke Himsh, mereka langsung menghadap Said untuk memberikan titipan Umar lengkap dengan pesan sang Khalifah. Setelah melihat isi kantong, Said terkejut dan menjauhkan kantong itu dari tempat duduknya, seraya berkata,” innalillahi wa inna ilaihi rajiun”. Lantas dia bertanya kepada istrinya, “ wahai istriku, sudikah kau membantuku?”. “ tentu mau wahai suamiku”. Akhirnya mereka berdua berjalan berkeliling ke kampung-kampung membagikan dinar pemberian Khalifah kepada rakyatnya hingga tak tersisa.

Selang beberapa waktu kemudian, Umar datang untuk melihat kondisi Syam dan tak lupa singgah di rumah sang gubernur. Melihat kondisi Said, Umarpun memberikan lagi bantuan seribu Dinar kepada Said. Sepulangnya Umar, Said dan istrinya kembali membagikan uang pemberian itu kepada rakyatnya yang tidak mampu. Hal ini Said lakukan dengan penuh ketulusan dan kerelaan. Tanpa ada rasa berat sedikitpun dalam hatinya.

Begitulah salah satu kisah kepemimpinan yang sukses dan patut dijadikan guru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pemimpin seperti said akan mendapatkan kucuran cinta yang luar biasa dari rakyatnya. Namun betapa sedihnya ketika kita melihat para pemimpin negeri ini justru banyak yang diseret ke penjara karena korupsi uang rakyatnya. Jika Said rela mengorbankan harta pribadinya untuk kepentingan rakyatnya, justru para pemimpin negeri hari ini yang merampas hak rakyatnya. Keduanya bagai langit dan bumi.

Dalam Islam, seorang khalifah adalah orang yang diberikan amanah untuk mengurusi urusan rakyat dengan dasar syariat Islam. Seorang khalifah dibaiat oleh rakyat, namun tetap harus bertanggungjawab kepada Allah atas kepemimpinannya. Contohlah khalifah Umar bin Khattab yang begitu takut kepada Allah jika sampai menelantarkan rakyatnya.

Dalam salah satu perbincangan dengan Muawiyah bin Hudaif setelah penaklukan Iskandariyah, Umar pernah berucap : Kalau aku tidur di siang hari, maka aku menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan ini wahai Muawiyah ? ”

Umar tentu sangat paham betapa berharganya nyawa satu orang muslim, sehingga dia sangat memperhatikan nasib rakyatnya, jangan sampai terzolimi sedikitpun. Itulah mengapa Umar pernah berkata, “Jika ada seekor onta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangung-jawaban kepadaku karena hal itu.

Karena onta tersebut berada di wilayah kekuasaannya, Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika onta itu mati sia-sia karena kelaparan, atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab di jalanan karena fasilitas yang buruk, Umar khawatir Allah akan memintai pertanggung-jawaban kepadanya nanti di hari kiamat.

Jangankan nyawa manusia yang menjadi rakyatnya, bahkan nyawa binatangpun bagi Umar tetap menjaganya dan tidak mau terzolimi karena kebijakannya. Sebuah hadist dengan tegas menyatakan : Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak. (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Siang dan malam Khalifah Umar selalu memantau keadaan rakyatnya. Umar benar-benar sadar kepemimpinan itu adalah melayani, bukan dilayani. Kepemimpinan bukan untuk menaikkan status sosial, menumpuk harta, yang akan menghasilkan kehinaan di akhirat semata. kepemimpinan adalah sebuah pengabdian kepada Allah melalui kepengurusan rakyat. Nyawa rakyat bagi Umar adalah pertanggungjawaban besar kelak di akherat, maka menyia-nyiakannya adalah sebuah kezoliman.

Abdullah bin Abbas ra. mengatakan, “Setiap kali shalat, Umar senantiasa duduk bersama rakyatnya. Siapa yang mengadukan suatu keperluan, maka ia segera meneliti keadaannya. Ia terbiasa duduk sehabis shalat subuh hingga matahari mulai naik, melihat keperluan rakyatnya. Setelah itu baru ia kembali ke rumah”.

Sesaat setelah terpilh sebagai sebagai khalifah, dalam pidatonya, tergambar bagaimana takutnya Umar memikul beban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin ketika itu. Dan bukan saat itu saja Umar merasa hal itu disampaikan Umar. Sesaat setelah Abu Bakar dimakamkan, Umar sudah merasakan ketakutan itu. Sebab dalam Islam kepemimpinan adalah amanah besar, tidak layak diperebutkan, apalagi jika sampai salah niat ketika berkuasa.

Dalam buku, Biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal digambarkan bagaimana sosok kepemimpinan khalifah kedua ini. Pertama, Umar adalah pemimpin yang sangat tegas terhadap kezoliman dan yang memusuhi Islam. Namun, Umar sangat lembut kepada orang jujur, adil dan teguh pada agamanya.

Kedua adalah kesadaran bahwa jabatan sebagai khalifah adalah ujian. Allah menguji rakyat dengan kepemimpinan Umar, sementara Umar diuji oleh rakyatnya. Dengan tegas Umar akan mengurus urusan rakyat dengan penuh amanah dan tidak menzolimi rakyat.

Ketiga, adanya hubungan saling mengingatkan antara pemimpin dan rakyatnya. Umar tak ragu meminta rakyat menegurnya atau mengkritiknya jika dirinya bersalah. Bahkan Umar dalam pidatonya, meminta rakyat tak ragu menuntutnya jika rakyat tak terhindar dari bencana, pasukan terperangkap ke tangan musuh. Bagi Umar, orang yang paling dicintai adalah yang mau menunjukkan kesalahannya.

“Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf naih munkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya demi kepentingan audara-saudara sekalian,” kata Umar menutup pidatonya.

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang zolim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42).

Tidak ada dosa yang lebih berhak untuk Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, disamping masih ada hukuman di akhirat, selain dosa zolim dan memutus silaturrahmi. (HR. Turmudzi 2700, Abu Daud 4904 dan dishahihkan al-Albani).

Nah, untuk para pemimpin muslim, dimanapun berada, hendaknya berguru kepada kepemimpinan Umar bin Khatab bahwa betapa sang khalifah begitu mencintai dan dicintai rakyatnya karena begitu menghargai nyawa rakyatnya. Dia tidak ingin berbuat zolim sedikitpun yang berakibat hilangnya nyawa rakyat, meski hanya satu orang.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here