Home Tech Pesantren dan Negara

Pesantren dan Negara

0
8

Oleh : Dr. Ahmad Sastra, M. M. (Forum Dosen Muslim Peduli Bangsa)

HILMI.ID – Sejarah pesantren diawali oleh proses institusionalisasi keilmuwan kyai jauh sebelum Indonesia lahir. Seiring bertambahnya para santri yang berguru, maka berlanjutlah kepada institusionalisasi kepemimpinan kyai yang melahirkan sistem pendidikan Islam di pesantren secara mandiri. Setelah kemerdekaan, negara kemudian melakukan rekognisi, afirmasi dan fasilitasi terhadap pesantren.

Pendidikan Islam berbasis pesantren secara filosofis merupakan pengenjawantahan jaminan kepada warga negara untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya serta jaminan untuk memilih pendidikan dan pengajaran. Lahirnya pesantren dari rahim masyarakat secara sosiohistoris berkontribusi penting bagi bagi pencerdasan bangsa berbasis keimanan, ketaqwaan, ilmu dan akhlak mulia.

Pesantren, sebagai subsistem pendidikan nasional mengelola sistem pendidikan Islam dengan berbagai varian dan keunggulannya. Ada pesantren yang unggul di bidang kajian kitab kuning dan dirasah islamiyah, ada yang unggul di bidang sains dan teknologi dan bahkan ada yang unggul di bidang pertanian dan peternakan. Keunggulan ilmu fardhu kifayah di pesantren dilandasi oleh ilmu fardhu ‘ain yang merupakan visi utamanya.

Tak juga bisa dipungkiri bahwa ghirah perjuangan para ulama dan santri telah menjadi wasilah kemerdekaan negeri ini pada tahun 1945. Jauh sebelum negeri ini merdeka, semangat jihad mengusir penjajah telah menjadi kewajiban agama yang diyakini dan diamalkan. Resolusi jihad yang digelorakan KH Hasyim Asy’ari menandakan bahwa nilai-nilai agama Islam telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi berdirinya negara ini dan peradabannya.

Maka, dengan demikian visi dan tujuan pendididikan nasional untuk mewujudnya manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia dapat ditemukan jejak historisnya. Sebaliknya, jika ada upaya-upaya untuk menghapus pendidikan agama di sekolah-sekolah, maka selain ahistoris, upaya ini merupakan bentuk sekulerisasi atas bangsa ini. Islam adalah ruh bangsa ini yang tercermin dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Upaya sekulerisasi dan ateisasi harus ditolak, sebab keduanya akan menjadikan negeri ini tak berperikemanusiaan, berkeadilan dan berkeadaban.

Jika dibuat sebuah analogi filosofis, maka Islam dengan institusi pesantren ibarat orang tua, sementara Indonesia adalah anak kandungnya. Maka secara etika, anak harus menghormati, menghargai dan mematuhi orang tuanya. Jika kemudian diterbitkan UU Pesantren, maka harus mencerminkan spirit positif layaknya anak kepada kedua orang tuanya, bukan sebaliknya.

Upaya para ulama di pesantren sebagai representasi nilai-nilai Islam dalam melawan segala bentuk penjajahan adalah bentuk nyata kecintaan pesantren kepada negeri ini. Islam bukan sebatas spiritual, namun inspirasi bagi ilmu dan peradaban bangsa. Istilah radikalisme yang akhir-akhirnya dihembuskan dan disematkan kepada Islam adalah upaya pembusukan dan penghancuran Islam dan kaum muslimin.

Toynbee justru berpendapat sebaliknya, baginya agama ada hubungan erat dengan tegaknya peradaban. Baginya, ada generasi creative minorities yang akan mampu membangkitkan keterpurukan peradaban. Generasi creative minorities ini memiliki karakater memiliki keimanan yang tangguh, ibadah kuat, mencintai ilmu dan bersikap zuhud (tidak cinta dan gila dunia, seperti harta, tahta dan pangkat).

Islam bukanlah agama radikal sebagaimana yang selama ini dituduhkan. Islam, sebagaimana asal namanya, adalah agama damai dan mendamaikan, agama sempurna dan menyempurnakan, agama benar dan menebarkan kebenaran. Istilah radikalisme adalah bagian dari imperialisme epistemologi (perang istilah) yang harus dipahamkan kepada masyarakat agar tidak terjangkiti islamophobia.

Islam bukan hanya sebatas agama ritual, melainkan juga ideologi dan peradaban. Islam tidak bersifat sekuleristik yang memisahkan dan menjauhkan agama dari kehidupan. Islam adalah asas pergerakan, perjuangan dan kehidupan. Islam mengajarkan dengan sempurna persoalan ekonomi, budaya, politik, pendidikan dan sosial. Rasulullah, selain sebagai Rasullah, beliau juga merupakan politikus ulung yang memimpin Daulah Madinah.

Aktivitas dakwah dan politik Islam yang dilakukan Rasulullah dalam upaya melenyapkan berbagai sistem batil zaman jahiliyah diperkuat oleh ilmuwan Barat, Michael Hart, “ Dia mendirikan negara baru di sisi agama. Di bidang dunia, ia menyatukan kabilah-kabilah di dalam bangsa, menyatukan bangsa-bangsa di dalam umat, meletakkan buat mereka semua asas kehidupan”.

Islam adalah jalan hidup yang tidak hanya berdimensi ritual, Islam juga memiliki dimensi ilmu dan peradaban. Karena itu kemajuan Islam bukan hanya ditimbang dari sisi ritualistik semata, melainkan juga ditimbang sejauh mana Islam memancarkan rahmat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Kemuliaan Islam bukan hanya untuk dirasakan oleh individu tapi untuk seluruh manusia di dunia. Pendidikan dan dakwah adalah pilar peradaban Islam.

Islam mengumumkan dengan jelas akan kesatuan manusia di alam semesta antara seluruh penduduk dan masyarakat. Semua itu dalam satu lembah kebenaran, kebaikan dan kemuliaan. Karena itu Islam telah menaklukkan berbagai macam penduduk, memberikan asas yang mengandung pokok-pokok dasar universal yang menghimpun secara nyata.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujurat : 13).

Oleh karena itu pesantren dan negara memiliki hubungan sosiohistoris dan peradaban. Pesantren dan Indonesia adalah dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan. Pesantren dengan nilai-nilai pesantren telah mewarnai Indonesia yang Islami. Nilai-nilai sekuleristik, liberalistik dan ateisitik dari Barat inilah yang justru telah menimbulkan berbagai persoalan di negeri ini. Semoga dengan tumbuhnya pesantren yang kini mencapai 29.000 lebih menjadikan Indonesia makin bergerak menuju negara yang berperikemanusiaan, berkeadilan dan berkeadaban.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here