Home Apple Jangan Bercanda Soal Corona

Jangan Bercanda Soal Corona

0
7

Oleh : Dr. Ahmad Sastra,M.M. (Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

HILMI.ID – Fakta pandemi coronavirus telah menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Bahkan beberapa dokter dan perawat tertular pasien terinfeksi corona yang harus kehilangan nyawa. Wabah penyakit menular yang bisa menjadi sebab kematian telah lama terjadi. Dalam sejarah kehidupan manusia telah banyak terjadi wabah.

Ikhtiar adalah perintah Allah dan Rasulullah dalam perspektif ajaran Islam. Allah berfirma (yang artinya) : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. (QS Ar Ra’d : 11).

Setiap benda yang Allah ciptakan memiliki khasiyah atau qadar yakni ukuran-ukuran tertentu. Semisal air bisa mengalir ke tempat yang rendah, asap menguap ke atas, baru bersifat keras dan virus tak terlihat mata, namun bisa menyebabkan sakit. Ini adalah ukuran yang telah diciptakan Allah atas benda-benda.

Manusia memiliki tugas untuk senantiasa berikhtiar sehubungan dengan berbagai benda-benda yang telah Allah ciptakan. Semisal, saat rumah kita kebanjiran yang berpotensi tenggelam, maka sebagai manusia harus berikhtiar untuk mencari tempat yang aman (tidak terkena banjir) sebagai usaha penyelamatan.

Ikhtiar adalah perintah Allah dalam menyikapi setiap dinamika hidup. Ikhtiar justru menjadi bagian dari upaya menjalankan apa yang diperintahkan Allah. Adalah tidak benar menuduh orang yang sedang berikhtiar untuk menghindari penyebaran coronavirus dengan stay at home atau social distancing sebagai bentuk ketidaktakutan kepada Allah.

Padahal Rasulullah sendiri dan para sahabatnya justru menganjurkan untuk berikhtiar menjauhi tempat yang menjadi pusat persebaran wabah. Padahal Rasulullah adalah manusia sempurna dengan keimanan yang sempurna juga. Maka, jangan membenturkan antara ikhtiar dan tauhid, sebab ikhtiar sebagai bentuk menjalankan perintah Allah justru bagian dari tauhid.

Karena itu pemerintah dan rakyat harus bekerja sama maksimal untuk menyikapi persebaran coronavirus ini. Pemerintah bisa melakukan kebijakan lock down dengan semua konsekuensinya, sementara rakyat melakukan social distancing dan stay at home. Pemerintah harus turun tangan menyelamatkan rakyatnya. Namun sayang hingga hari ini, pemerintah seolah tak banyak berbuat.

Memang benar bahwa segala sesuatu yang terjadi dan diluar kendali manusia namanya qodho, yakni bagian dari ketentuan Allah. Kita harus menerima apapun keputusan Allah yang menimpa diri kita. Kematian misalanya adalah ajal yang telah Allah tentikan bagi setiap makhlukNya. Jika ajal telah tiba, maka tak bisa dimajukan atau dimundurkan oleh manusia.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (QS Ali Imran : 185). Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal dzat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan (QS Ar Rahman : 26-27). Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad) (QS Al Anbiyaa : 34)

Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh (QS An Nisaa : 78). Katakanlah : Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS Jumu’ah : 8).

Namun ada wilayah perbuatan yang itu sangat bergantung kepada manusia untuk memilihnya. Jika diamati secara serius, maka dapat diketahui bahwa suatu perbuatan atau kejadian yang dilakukan atau yang menimpa manusia terdri dari dua jenis yakni perbuatan dibawah kendali dan di luar kendali.

Perbuatan yang berada di bawah kendali manusia adalah perbuatan yang timbul karena semata-mata pilihan dan keinginan manusia sendiri, manusia bisa memilihnya. Sementara perbuatan di luar kendali manusia adalah perbuatan atau kejadian yang berada di luar kemampuan dan kehendak manusia, manusia harus menerimanya.

Contoh perbuatan dan kejadian yang pertama mudah diketahui, semisal, apakah kita mau makan atau minum, belajar atau tidur, minum kopi atau the, belajar fisika atau fiqh, berbakti kepada orang tua atau mau durhaka. Seluruh perbuatan ini, jelas dilakukan atas kesadaran dan kesukarelaan manusia, tanpa paksaan dari pihak manapun.

Sementara jenis perbuatan atau kejadian kedua dimana manusia tak mampu mengendalikan terbagi menjadi dua. Pertama, kejadian yang ditentukan oleh ‘nidzom wujud’ (sunnatullah/peraturan alami), misalnya seseorang yang dilahirkan dari seorang ibu bersuku Jawa atau Sunda. Contoh lain, manusia hidup terikat dengan gravitasi bumi, manusia tak tidak dapat terbang dan bernafas dalam air.

Nah oleh karenanya, tidaklah tepat jika ada orang yang menantang coronavirus dengan cara mesuk ke tempat wabah dengan alasan hanya takut kepada Allah. Padahal qadarnya virus itu menular dan bisa jadi orang yang nekad itulah yang justru menularkan kepada orang lain. Sombong atas keimanan juga tidak boleh.

Hal lain lagi adalah bercanda soal coronavirus. Sebab virus ini adalah wabah yang menjadi bagian dari musibah yang menimpa manusia. Maka manusia mesti optimal meningkatkan keimanan dan ikhtiar, bukan malah dijadikan sebagai bahan candaan. Mestinya saat terjadi wabah menimpa manusia, diikuti oleh peningkatan keimanan, bertobat, bersabar dan berikhtiar mencegah dan mengobatinya.

Sebab apapun yang kejadian di luar kendali manusia yang menimpa manusia pasti mengandung hikmah dan pelajaran hidup. Manusia yang tetap merenung, gerangan hikmah apa dibalik setiap peristiwa. Meski manusia juga tidak boleh panik berlebihan menghadapi corona, tapi tetap harus waspada, namun jangan dijadikan sebagai bahan candaan.

Coba runungkan dalam hati kita masing-masing, apa perasaan para tenaga medis yang berjuang menyelamatkan pasien hingga mempertaruhkan nyawa, sementara masih ada sekelompok masyarakat yang justru bercanda soal coronavirus ini. Tentu mereka akan sakit hati disaat nyawanya terancam, sementara yang diluar justru banyak bercana.

Banyak beredar bahan-bahan candaan terkait coronavirus ini. Jika niatnya sekedar untuk menghibur, mestinya hiburannya adalah doa-doa keselamatan untuk saudaranya agar terhindar dari musibah. Jangan menjadikan bahan candaan, seolah coronavirus itu sesuatu yang sepele yang tak perlu diwaspadai.

Stop bercanda soal corona, lebih baik merenung, gerangan apa hikmah dibalik corona. Lebih baik juga tetap waspada dan berikhtiar mencegah dan mengobatinya. Seraya terus berdoa kepada Allah agar kita semua terhindar dari setiap musibah. Jangan bercanda soal corona.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here