MEMBUMIKAN SPIRIT ISRA’ MI’RAJ

6
0

Oleh : Dr. Ahmad Sastra, M.M. (Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

HILMI.ID – Peristiwa sejarah Isra’ Mi’raj Rasulullah memiliki dimensi spirit dan pembelajaran yang sangat agung bagi manusia. Itulah mengapa Allah banyak menghadirkan sejarah para Nabi dalam Al Qur’an untuk diambil sisi pembelajaran hidup dan mampu direfleksikan dalam kehidupan faktual.

Sayyid Qutb mendefinisikan sejarah bukan sekedar peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dn tidak nyata yang menjalin seluruh bagian dan memberikan dinamisme dalam waktu dan tempat. Bagaimana umat Islam bisa membumikan sejarah Isra’ Mi’raj dalam kehidupan faktual ?.

Banyak dimensi dan sudut pandang yang bisa diambil dari peristiwa isra dan mi’raj Rasulullah SAW untuk kehidupan umatnya hari ini. Selain dari dimensi psikologis dan sosiologis, bahkan peristiwa agung ini bisa dilihat dari dimensi politik dan peradaban. Tentu saja secara spiritual, peristiwa agung ini bagian dari keimanan seorang muslim yang tak mungkin ditawar.

Secara psikologis, peristiwa agung ini terjadi di saat Rasulullah mengalami tahun berduka karena ditinggal wafat orang-orang tercinta yang selama ini setia mendampingi perjalanan hidup beliau, yakni istri dan pamannya. Kesedihan kedua karena Rasulullah menghadapi penyiksaan fisik sejak pamannya Abu Thalib meninggal. Kesedihan ketiga adalah kenyataan pahit gagalnya cita-cita ketika pergi ke Thaif.

Perjalanan Rasulullah atas kuasa Allah ini seolah menjadi semacam hiburan bagi duka yang dialami oleh Rasulullah. Seolah Allah berfirman, Wahai Muhammad, jika bumi terasa sempit bagimu, maka langit itu sangat luas bagimu. Jika penduduk bumi memusuhimu, maka penduduk langit menyambut baik kedatanganmu. Dan jika penduduk bumi menghinakanmu, maka kedudukanmu di sisi Allah sangatlah mulia (Muh. Rawwas Qol’ahji, Sirah Nabawiyah, sisi politis Perjuangan Rasulullah, hlm 102-103).

Membumikan dimensi psikologi Isra’ Mi’raj memiliki makna bahwa perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho adalah sebuah pelajaran penting bahwa masjid adalah simbol ibadah untuk mencapai ketenangan batin manusia. Diantara dua masjis adalah gambaran garis horizontal dimana kehidupan manusia tidaklah terlepas dari aspek sosiologis yang kerap menghadirkan permasalahan.

Saat manusia di dalam masjid, maka manusia akan merefleksikan garis vertikal kepada Allah SWT. Garis vertikal yang ditandai oleh peristiwa mi’raj merefleksikan hubungan spiritual manusia dengan Allah dengan banyak berzikir, bersyukur, beriman, bertaqwa serta berdoa. Garis vertikal inilah yang akan menimbulkan ketenangan batin manusia dan menghilangkan segala bentuk duka dan kegalauan psikologis.

Dalam peritiwa agung ini Allah SWT juga mempertemukan Rasulullah saw. dengan para nabi dan Rasul yang diutus Allah sebelum beliau. Selain itu Beliau pun diperlihatkan beragam keadaan penghuni neraka dan azab yang mereka derita diantaranya azab kepada pelaku riba, para pezina, dan pemakan harta anak yatim.

Dalam perspektif ini, maka Isra’ Mi’raj mengandung dimensi teologis dan peradaban. Secara teologis pertemuan Rasulullah dengan para Nabi dan Rasul sebelumnya memberikan pembelajaran bahwa sesungguhnya seluruh Nabi dan Rasul adalah utusan Allah dengan satu visi utama yakni mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah dan meninggalkan kemusyrikan. Seluruh Nabi dan Rasul membawa agama tauhid yakni Islam.

Hal ini ditegaskan Allah dalam firmanNya : Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami semua adalah muslim [hanya tunduk patuh kepada-Nya]” [QS Al Baqarah : 136]

Gambaran azab neraka yang diperlihatkan kepada Rasulullah merupakan refleksi pentingnya ketaatan atas perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan Allah. Ketaqwaan ini akan melahirkan perilaku manusia yang tunduk kepada aturan Allah semata. Seluruh perilaku manusia yang didasarkan oleh ketundukan kepada hukum Allah akan melahirkan sebuah peradaban mulia. Islam adalah adil dan menebarkan keadilan. Islam adalah sempurna dan menyempurnakan kehidupan manusia. Islam adalah spiritual dan peradaban yang melahirkan peradaban terbaik bagi umat manusia. Islam adalah agama yang membawa rahmat dan keberkahan bagi alam semesta seluruhnya.

Allah SWT menggambarkan peristiwa ini dengan firman-Nya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (TQS. al-Isra’ [17]: 1).

Salah satu akhlak agung Rasulullah adalah kejujurannya. Sejak usia muda beliau telah diberikan julukan Al Amin karena beliau merupakan orang yang bisa dipercaya oleh siapapun karena teguh memegang amanah dan jujur. Kepeduliaan beliau terhadap nasib masyarakat muncul sejak kecil, hingga usia yang ke 20 beliau telah peduli dan membantu orang-orang miskin dan teraniaya.

Karena itulah Allah menegaskan dalam firmanNya dalam surat Al Ahzab ayat 21 bahwa Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Perjalanan kenabian Rasulullah pasca peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan dakwah dan perjuangan untuk membangun sebuah peradaban agung yang sarat dengan nilai-nilai religius, menggantikan peradaban jahiliyah yang paganistik dan amoral. Beliau bukan hanya dikenal sebagai pemimpin duniawi, melainkan juga pemimpin agama sekaligus.

Hal ini menegaskan bahwa Islam bukanlah agama ritualistik semata, melainkan sistem kehidupan yang sempurna dan holistik. Islam mengajak kepada kehidupan yang agung di dunia dan kebahagiaan di akherat menggantikan sistem kehidupan yang sekuleristik materialistik. Peradaban profetik yang dibangun oleh Rasulullah adalah pelajaran besar dari peristiwa Isra’ Mi’raj, itulah cara Rasulullah membumikan Islam.

Allah menegaskan firmanNya : Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS. al-A’raf [7]: 96).

Sikap istiqamah atau konsisten para sahabat dan kaum muslimin dahulu terhadap ajaran Islam membuahkan kejayaan. Pada masa Khulafaur Rasyidin misalnya, keberkahan telah mereka rasakan dengan amat luar biasa diantaranya dalam bentuk kemakmuran hidup.

Di dalam ¬al-Bidayah wa an-Nihayah diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab ra. mampu memberikan santunan tunai kepada setiap warga negaranya, bahkan termasuk untuk bayi yang baru lahir. Itu semua adalah keberkahan dan kemakmuran yang dijanjikan Allah SWT. bagi penduduk negeri yang beriman lagi bertakwa.

Bagi umat Islam hari ini, saatnya membumikan sejarah peristiwa Isra’ Mi’raj dengan peningkatan ketaqwaan individu dan berjuang membangun peradaban profetik yang dicontohkan oleh Rasulullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here