Home Apple Menghafal Dan Berfikir Inovatif

Menghafal Dan Berfikir Inovatif

15
0

Oleh : Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar
(Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie.
Alumnus Vienna University of Technology, Austria).

HILMI.ID – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melempar beberapa pernyataan yang sedikit banyak membuat “gaduh”.

Saat menghadiri rapat kerja Komisi X DPR 12 Desember 2019, Nadiem menilai bahwa “saat ini dunia tidak butuh siswa yang hanya jago menghafal”.

Sebelumnya pada 4 Desember 2019 saat memberikan sambutan atas pelantikan rektor UI dia mengatakan “gelar tak lagi menjamin kompetensi, kelulusan tak lagi menjamin kesiapan seseorang dalam bekerja, akreditasi tak lagi menjamin mutu, dan kehadiran di kelas tidak lagi menjamin proses belajar”.

Ucapan-ucapan Mendikbud ini jelas memicu kontroversi di ranah publik. Publik khawatir, bahwa sosok baru yang punya kewenangan nan besar di dunia pendidikan ini tiba-tiba membalikkan banyak hal yang selama ini dinilai sudah cukup sukses meningkatkan mutu pendidikan.

Memang variasi mutu pendidikan di Indonesia itu sangat lebar, sebagaimana kualitas guru atau fasilitas pendidikan juga sangat beraneka. Semua upaya simplifikasi dan generalisasi niscaya akan gagal.

Bagaimana sekolah tanpa menghafal? Sedangkan banyak fakta dasar yang memang harus dihafal. Ketika anak pertama kali belajar membaca, maka dia harus menghafal bentuk huruf. Ketika anak pertama kali belajar bahasa asing, suka tak suka dia harus menghafal kosa kata baru.

Dalam keseharian, anak juga harus hafal siapa saja guru dan teman-temannya. Bukankah pilar pendidikan selain learning to know, learning to do dan learning to be, adalah juga learning to live together?

Bahkan hafalnya seorang siswa tentang Pancasila, lagu Indonesia Raya, pemerintahnya dan sejarahnya menjadi indikator kepedulian mereka pada bangsanya. Bagaimana ini semua akan dianggap tak lagi dibutuhkan?

Memang, tak semua hal bisa dan perlu dihafal. Hafalan bisa jadi penting untuk beberapa jenis profesi, seperti dokter, lawyer ataupun artis pertunjukan. Tetapi semua pendidik juga paham, bahwa menghafal bukan segala-galanya. Dokterpun dilatih berpikir analitis untuk menghubungkan hasil diagnosis dengan teori yang dihafalnya.

Menjadi seorang ustadz juga tidak cukup hanya jago hafal Qur’an 30 juz dan cakap berbahasa Arab, tapi juga harus paham ushul fiqih, fiqih, sirah dan manatul hukmi (fakta objek yang dihukumi).

Memang sebagian tugas mengingat sekarang bisa lebih akurat dan cepat dilakukan oleh Google, apalagi setelah nanti hadir Artificial Intelligence. Namun, orang dengan hafalan meski sedikit, tetap akan lebih cepat menemukan yang dicarinya karena dia hafal kata-kata kuncinya.

Yang tidak akan bisa digantikan oleh Google bahkan oleh Artificial Intellegence adalah berpikir analitis kompleks, pekerjaan yang terkait dengan kreatifitas, juga aktivitas yang melibatkan kecerdasan emosional, sosial dan spiritual.

Berpikir inovatif memang tak bisa dilakukan oleh orang yang hanya jago menghafal.

Dalam era disrupsi saat ini, profesi datang dan pergi. Anak-anak yang ada di SD saat ini, disiapkan untuk menyandang profesi yang saat ini juga belum ada! Sementara ada sejumlah profesi yang pasti akan hilang.

Sama seperti duapuluh tahun yang lalu, juga belum ada profesi seperti Ojol-driver, Youtuber, Content writer, atau Android-programmer. Sebaliknya sekarang nyaris tak ada lagi profesi penjaga pintul tol, operator telepon, atau fotografer Polaroid.

Di sisi lain, masih banyak guru dan sekolah, bahkan dosen dan perguruan tinggi yang belum siap. Ketika penjabaran kurikulum dirasa tidak jelas sementara beban administrasi menumpuk, maka akhirnya yang dapat diujikan dengan cepat adalah teori. Dan itu berarti hafalan.

Jadi memang benar, ada orang lulus sarjana teknik, tetapi hanya modal hafalan. Begitu diberikan persoalan nyata, dia gelagapan. Belum kompeten. Namun juga kita tak boleh menggeneralisir, bahwa semua sekolah seperti itu, lantas kesimpulannya radikal, misal: “Bubarkan sekolah! Ganti saja dengan pendidikan online!”.

Sisi radikal yang lain adalah, ketika kita menyaksikan beberapa tokoh yang sukses dan inovatif, yang tidak linier dengan pendidikannya. Bu Susi yang cuma lulusan SMP sukses menjadi pengusaha maupun Menteri Kelautan, membawahi banyak sarjana, bahkan profesor. Lalu kita simplifikasi: sukses tidak ada hubungannya dengan prestasi sekolah! Radikal.

Tentunya kalau mau fair, kita bisa buat sebuah diagram dengan pendidikan sebagai variabel bebas, dan kesuksesan (antara lain tercermin dalam penghasilan) sebagai variabel terikat. Maka akan muncul 4 kuadran.

Kuadran pertama adalah ketika sukses berkorelasi positif dengan pendidikan. Tingginya pendidikan membuka lebih lebar peluang sukses. Negara di manapun menggunakan teori ini, sehingga prioritaskan pendidikan dalam pembangunan.

Kuadran kedua adalah ketika sukses dapat juga diraih meski dengan pendidikan pas-pasan. Ini bisa terjadi pada sejumlah kecil orang dengan bakat istimewa atau kecerdasan finansial, sehingga sukses berinovasi.

Kuadran ketiga adalah ketika tingkat dan kualitas pendidikan yang rendah membatasi ruang gerak meraih sukses. Ini banyak terjadi di negeri-negeri berkrisis sehingga pendidikan nasional tak berjalan baik.

Sedang kuadran keempat adalah ketika tingginya pendidikan tidak menjamin kompetensi dan tidak membuka peluang sukses yang baik. Ini terjadi di negeri-negeri yang salah urus, sehingga terjadi pengangguran orang terdidik, bahkan pengangguran sarjana.

Berapa prosentase tiap kuadran itu di Indonesia? Bila ternyata banyak di kuadran keempat, maka itulah tugas Menteri Nadiem Makarim untuk membenahi.
Selamat bekerja!

Dimuat dalam Republika (23/12/2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here