Home Travel TAK JADI HAWKING MAUPUN BUMI DATAR

TAK JADI HAWKING MAUPUN BUMI DATAR

7
0

Oleh : Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar

Saya sudah menyukai fisika jauh sebelum kenal nama Stephen Hawking. Ketika di SMA, saat fisika menjadi pelajaran paling momok, saya justru suka tenggelam dalam penurunan rumus-rumus yang “belum saatnya” dipelajari. Makalah saya berjudul “Roket Relativistik” memenangkan Lomba Karya Ilmiah Remaja Regional di Yogya tahun 1986. Di EBTANAS SMA 1986, nilai Fisika saya nyaris sempurna. Hanya salah di satu soal, itupun karena salah baca angka.

Tahun 1986 saya masuk Fisika FMIPA ITB sebagai pilihan pertama. Sayangnya, satu semester kemudian tempat itu saya tinggal karena ada beasiswa yang mengantar saya ke Austria untuk belajar geodesi, meskipun masih bau-bau fisika juga. Hanya saja, di geodesi saya tidak akan mempelajari fisika nuklir, fisika teori, apalagi kosmologi. Hanya ada sedikit pelajaran teori relativitas ketika bicara gravity dan geodesi-astronomi.

Buku “A Brief History of Time” ini saya jadikan kenang-kenangan ketika saya pergi ke Inggris untuk pertama kalinya, tahun 1995. Saya merasakan di buku inilah disampaikan cara termudah memahamkan teori relativitas kepada orang awam. Juga memperlihatkan dunia para ilmuwan top dunia, beserta kelebihan dan kekurangan mereka.

Saya sedih, hingga ajalnya Stephen Hawking tidak mengenal Tuhan. Dia tetap bangga dengan atheismenya, Padahal banyak orang yang bukan fisikawan, terinspirasi dengan keterbatasan alam semesta yang dibuktikan dengan Teori Big Bang dari Hawking. Itulah bedanya Sains dengan Tafsir Sains. Sains membatasi diri dengan yang empiris. Sedang Tafsir Sains lebih dari itu, menguak realita yang melebihi dunia empiris.

Tafsir Sains menggunakan metode rasional. Memang hasilnya tidak selalu benar ketika membicarakan yang detil atau prediksi masa depan yang akurat. Namun metode rasional bisa menghasilkan kebenaran yang pasti ketika bicara sebatas existensi (YA – TIDAK) seperti apakah Tuhan itu ada atau tidak? Apakah Tuhan itu mirip mahluk atau tidak?

Mungkin hingga akhir hayatnya, Hawking cuma bertemu dengan orang-orang yang menghayati agama, tetapi awam dengan sains. Atau orang-orang taat beragama namun memiliki tafsir sains yang berlebihan, sehingga menghasilkan kesimpulan yang bertentangan dengan fakta sains itu sendiri. Contoh yang terakhir ini misalnya adalah kelompok bumi datar (flat-earther). FE yang lahir dari dunia Nasrani ini ternyata tak sekedar percaya bumi datar, tetapi sebuah “ideologi” yang secara umum menolak sains modern, ketika dirasakan berbeda dengan kitab suci.

FE ini menolak kenyataan bahwa model bumi bulat telah 14 abad dipakai menghitung jadwal sholat, sementara model bumi datar? Sama sekali belum pernah bisa! Dalam FE konsep lintang bujur saja menjadi absurd. Lintang/Bujur itu hanya bisa diukur dengan azimut & sudut tinggi objek langit pada bumi bulat!

Ada anekdot, “Kalau FE bisa hitungkan jadwal sholat & arah qiblat, boss NASA Insya Allah akan masuk Islam”. Untuk melawan neolib kapitalis global, tidak perlu ikut-ikutan gerakan FE & antivax. Lawan Kapitalis Global dengan Islam & Khilafah ! Untuk menangkal “wabah FE”, ajari murid kita sains dengan berpikir logis & matematika, karena sains itu bukan hafalan dogma !

Untuk memastikan kebenaran sebuah teori sains, uji dengan seluruh semesta yang dilingkupinya atau buat prediksi dengannya. Sebuah teori sains pasti salah ketika gagal menjelaskan satu saja fenomena, atau prediksinya meleset.

Di dunia ini ada tiga jenis fakta.

1. Fakta terindera : seperti gerak matahari terbit di timur tenggelam di barat. Fakta terindera ini ada batasnya, yaitu pengalaman hidup pengindera, yang mungkin hanya kenal kampungnya saja. Kalau kita ke Norwegia bulan Juli, maka matahari sepanjang hari/malam ada di atas ufuk. Mid-night-sun. Maka orang berakal kemudian berpikir: Mengapa ya?

2. Fakta terpikirkan : Ini penggalian yang lebih dalam. Kita mencoba banyak model. Bagaimana cara memahami gerak-gerik matahari yang di Indonesia dan di Norwegia bisa beda seperti itu? Sejarah mencatat diajukannya berbagai model: (1) bumi datar; (2) bumi bulat diam, langit yang bergerak; (3) bumi bulat, berrotasi (masih geosentris); (4) bumi bulat, berrotasi, berrevolusi mengitari matahari (heliosentris). Ternyata dari sekian model itu, model no 4 yang paling bisa menampung semua data fakta terindera dari seluruh penjuru bumi. Jadi fakta terpikirkan ini jauh lebih luas dari fakta terindera.

3. Fakta tercipta : fakta ini muncul setelah orang mencapai fakta terpikirkan. Bumi bulat adalah fakta terpikirkan. Dari fakta ini kemudian manusia bisa berkreasi menciptakan satelit. Jadi satelit tidak dibuat untuk membuktikan bumi itu bulat. Justru manusia baru berani meluncurkan satelit, setelah memastikan bumi bulat, berrotasi dan berrevolusi. Tanpa ini semua, gerak-gerik, kontrol dan penggunaan sinyal dari satelit mustahil direncanakan.

Penggunaan dalil naqli di dalam sains

Dalil naqli tidak dapat untuk mendukung atau membatalkan sebuah fenomena empiris, apalagi yang mutawatir (disaksikan banyak orang, atau dapat diulangi kapan saja oleh siapa saja). Kebenaran sebuah fakta sains (fakta terindera, terpikirkan, tercipta) itu melekat pada dirinya sendiri (objektif), tidak memerlukan pembenaran dari manapun, sekalipun dari kitab suci.

Ketika ada dalil naqli yang seolah mendukung sebuah teori sains, maka kita tidak perlu terlalu gembira, karena boleh jadi, akan diketemukan fakta berikutnya dengan alat yang lebih teliti, yang melahirkan teori yang lebih valid, dan prediksi yang lebih akurat.

Ketika ada dalil naqli yang seolah menolak sebuah teori sains, maka kita juga tidak perlu bersedih. Boleh jadi, pemahaman kita atas dalil naqlinya juga belum lengkap. Untuk memahami dalil naqli dengan tepat, diperlukan pemahaman bahasa Arab yang tuntas dan ilmu ushul fiqih yang sempurna. Dan tidak usah pula terburu-buru menyalahkan sainsnya. Bisa saja memang sainsnya yang salah. Sekali lagi, kebenaran sains tergantung dirinya sendiri, tidak memerlukan pembenaran dari kitab suci.

Dalil naqli dibutuhkan di tiga hal: (1) guna menginspirasi & memotivasi kita meneliti sesuatu; (2) buat melindungi agar kita tidak melakukan yang haram selama penelitian; (3) untuk mengarahkan agar kita menggunakan hasil penelitian secara bijak, sains dan teknologi tidak untuk bermaksiat kepada Allah, tidak untuk menjajah manusia lain, tetapi membebaskan manusia dari penjajahan oleh siapa saja menuju penghambaan kepada Allah semata.

Sains sebagai “penjelasan sebuah fenomena alam dan dapat digunakan untuk prediksi fenomena sejenis di masa depan”, memang bebas nilai. Namun tafsir sains jelas tidak bebas nilai. Contoh: evolusi pada mahluk hidup, itu memang fenomena yang terbukti. Tetapi bahwa manusia adalah evolusi dari primata/monyet itu cuma tafsir yang tidak bebas nilai. Teori manusia berasal dari monyet mustahil dibuktikan karena membuktikannya perlu waktu ratusan ribu tahun. Malah penelitian mutakhir menunjukkan bahwa DNA hewan yang terdekat dengan manusia itu ternyata DNA babi ! Sebagai pembanding: tafsir sains itu mirip tafsir al Qur’an. Al Qur’an sebagai wahyu Allah, itu pasti benar. Tetapi Tafsir al Qur’an, itu dari manusia, yang selain Nabi, bisa benar, bisa salah. Artinya Tafsir Al Qur’an pun tidak bebas nilai. Makanya tak heran, ada Tafsir al Qur’an menurut paham Liberal …

Demikian pula teknologi, bahwa sesuatu bisa berfungsi bila dikombinasikan dengan sesuatu yang lain, itu bebas nilai. Tetapi aplikasi teknologi tidak bebas nilai. Komputer pengolah grafik, itu bebas nilai. Tetapi bila diaplikasikan untuk membuat pornografi, itu tidak bebas nilai.

Dalil naqli itu bisa muhkamat, bisa mutasyabihat. Di dalam kitab ushul fiqih, ada aturan bagaimana memahami sebuah dalil apalagi yang tampak kontradiktif. Urutannya adalah isytarak, naql, majaz, idhmar, dan takhsis. Ini untuk dalil tentang perbuatan (hukum syara’). Kalau terkait aqidah, maka perlu 5 hal lagi yang harus diperhatikan, yaitu: nasakh/mansukh, taqdim/ta’khir, perubahan i’rab, tashrif dan pertentangan dengan aqli.

Ini contoh sebuah dalil (masih seputar gerhana), dicoba dipahami oleh Prof. Dr. Mikrajuddin Abdullah (guru besar fisika ITB):

Dalam Qur’an Surat 75- al-Qiyamah Allah berfirman:

Ayat 8: dan bulan makin gelap
Ayat 9: dan bulan dan matahari disatukan/dikumpulkan

Selama ini banyak yang menafsirkan ayat tersebut sebagai gerhana. Namun, secara logis kurang tepat.

1) Bulan tampak gelap saat gerhana bulan. Namun, posisi bulan justru paling jauh dari matahari. Jadi, tidak sesuai dengan ayat 9 yang menyebutkan matahari dan bulan disatukan.

2) Matahari dan bulan disatukan lebih tepat menjelaskan gerhana matahari. Diamati dari bumi, matahari dan bulan tampak menyatu. Namun, saat gerhana matahari, bukan bulan yang makin gelap, tetapi matahari. Jadi tidak sesuai dengan ayat 8.

Apakah ini implikasi yang akan terjadi?

Saat ini jarak rata-rata bulan-bumi bertambah sekitar 38 mm/tahun. Suatu saat jarak bulan menjadi sangat jauh dari bumi sehingga cahaya bulan menjadi redup (gelap). Kemudian makin jauh bulan dari bumi maka gaya tarik bumi pada bulan menjadi lemah dan akhirnya lepas dari tarikan bumi. Tarikan matahari pada bulan menjadi lebih dominan sehingga bulan bergerak/jatuh ke arah matahari dan bergabung dengan matahari. Mungkin inilah tafsir yang lebih tepat. Ini kejadian menjelang Hari Kiamat, sebagaimana judul surat itu “alQiyamah”.

Hanya dengan memahami sains dengan tepat dan memahami agama secara proporsional, akan didapatkan ilmuwan yang tidak cenderung menjadi atheis seperti Hawking, maupun seperti kaum bumi datar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here