Home Entertainment Mencari “IKIGAI” Indonesia

Mencari “IKIGAI” Indonesia

0
41

Oleh : Prof. Dr. -Ing. Fahmi Amhar
(Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial l
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie)

Ada seorang pejabat tinggi yang gemar bertanya seperti ini, “Kalau kita bicara Korea, kita ingat ponsel merk Samsung atau mobil merk Hyundai. Suatu national brand, yang terbentuk dari riset bermutu yang berkelanjutan. Nah, setelah 74 tahun merdeka, apa riset Indonesia yang telah menghasilkan national brand? Benar kita punya produk-produk yang dikenal dunia. Kita punya Batik. Kita punya Borobudur. Namun itu bukan hasil riset kalian !”

Bagi kami para peneliti, pertanyaan retoris itu terasa seperti perundungan (bullying). Dunia riset itu sangat luas, sebagaimana ragam latar belakang penelitinya. Ada peneliti kebencanaan. Penemuannya tentu saja tidak bisa dijual, diekspor apalagi menjadi national brand. Ada peneliti antropologi kearifan masyarakat adat. Tak ada yang bakal bisa dijual. Kecuali menemukan zat anti kanker seperti pohon Bajakah baru-baru ini. Tapi itu ranah peneliti farmasi, dan jalannya masih panjang. Bahkan peneliti aeronautika di PT-DI dan LAPAN yang sudah berhasil mencipta pesawat N-219 pun, sekalipun berpotensi jadi national brand, jalannya masih sangat terjal dan panjang !

Kemenristekdikti telah membuat Prioritas Riset Nasional (PRN) dan dunia riset suka tidak suka dipaksa mengacu ke sana. Tujuannya agar riset kita bisa fokus, dan ada hasil yang benar-benar bermanfaat untuk negeri ini. Menghasilkan national brand. Benar juga.

Masalahnya, bagi para peneliti sering ada jarak antara lingkaran “Apa saja yang dunia butuh dari kita?” dengan lingkaran-lingkaran “Apa saja yang kita bisa?”, “Apa yang kita suka?” serta “Apa yang kita bisa dapat devisa?”.

Apa yang tertulis di PRN baru memenuhi lingkaran pertama “Apa saja yang Indonesia butuh dari kita”. Dan itu memang tugas para politisi untuk memberikan arah. Adapun lingkaran kedua “Apa saja yang kita bisa?” adalah tugas dunia pendidikan. Dan kita tahu, dunia pendidikan kita belum optimal. Belum semua yang memiliki bakat, mendapatkan pendidikan atau mentor sesuai bakatnya.

Sudah begitu, mereka yang akhirnya menyelesaikan pendidikannya, bahkan sampai jenjang tertinggi, kadang ternyata tidak menyukai dunianya. Mereka akhirnya lebih totalitas dalam menjalankan hobby atau aktivitas sosialnya. Bukan profesinya. Lingkaran “apa yang kita suka” dipengaruhi oleh teladan dari para terkemuka, budaya lingkungan kerja, juga trend pop-culture dunia, . Adalah tugas media massa, budayawan, bahkan rohaniawan untuk memberi arah “apa yang kita suka” bagi bangsa ini pada umumnya, dan para peneliti pada khususnya.

Andaikata para peneliti sudah dididik sesuai bakatnya, lalu bekerja dalam lingkungan kondusif yang dia suka, mengerjakan topik yang memang dibutuhkan Indonesia, masih ada satu lagi persoalan: apakah topik itu benar-benar bisa menghasilkan uang atau devisa, sehingga layak negara berinvestasi di dalamnya?

Pengalaman di masa lalu: Tahun 1995 PT DI meluncurkan pesawat N-250, type yang tepat untuk menghubungkan pulau-pulau di Nusantara saat ini, dikerjakan oleh anak-anak bangsa yang sangat berbakat dan antusias, namun kini harus merana karena tidak laku.

Lingkar terakhir ini ada di tangan para pelaku ekonomi, bahkan sebagian pelaku global. Pada 1998, kita tak kuasa mencegah, ketika George Soros bermain Rupiah di pasar valas yang membuat kita terseret krisis moneter. Saat ini, aturan main kapitalisme global belum berubah.

Irisan keempat lingkaran ini, dalam falsafah Jepang disebut “ikigai”. Di sinilah kita berada di puncak optimal. Untuk konteks Indonesia bisa ditambah satu lagi: “keberkahan”, lingkaran spiritual yang tercermin dalam falsafah bangsa: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kalau para peneliti Indonesia berhasil menemukan atau ditemukan dengan ikigai-nya, tentu masa depan riset di Indonesia akan lebih cerah.

Politik riset Indonesia telah membuat PRN yang membatasi lingkaran “Apa yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini?”. Namun PRN saja, atau dengan penggabungan semua lembaga litbang dalam Badan Riset Nasional, juga pasti belum cukup.
Dunia pendidikan sejak usia dini hingga tinggi sudah saatnya juga menyiapkan kurikulum yang adaptif, yang semua peserta didik mampu memaksimalkan prestasinya, ketika fokus mempelajari sesuatu yang sesuai bakatnya dan juga dibutuhkan Indonesia.

Jangan sampai, mereka kemudian justru “dibajak” negeri asing. Ada banyak negeri dengan iklim riset yang kondusif – dan ini lebih dari sekedar penghasilan yang memadai – membuat mereka betah, merasa diperlukan, dan output mereka pun diakui di seluruh dunia.

Di negara berkembang, orang-orang berbakat istimewa, kadang menjadi tak suka berkarya di sana, ketika melihat budaya kerja hingga atmosfir politik yang kurang bersahabat. Sebagian dari mereka akhirnya sekalian terjun menjadi politisi. Ada juga yang mencari peluang kerja atau usaha yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Lainnya memutuskan mencari ladang yang lebih “hijau” di negeri orang. Anehnya, yang terakhir ini kadang akan dihargai lebih tinggi sebagai “diaspora” dibanding rekan-rekannya yang benar-benar berjuang di bumi pertiwi.

Agregasi karya-karya peneliti yang telah mencapai ikigai ini berpotensi membentuk national brand, “Apa saja yang Indonesia bisa”. Tapi agar itu efektif, tentu bangsa ini sendiri mesti menyukainya, baik saat membuat maupun saat memanfaatkannya. Alangkah ganjilnya menjual brand nasional, tetapi sehari-hari menggunakan brand asing. Korea bahkan telah mempromosikan produk teknologinya dengan budaya pop mereka.

Meski Indonesia kini telah 74 tahun, namun sesuai pemeo “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”, kita pantas introspeksi. Kedewasaan ditandai dengan berpikir luas (multi aspek), mendalam (detil) dan jauh ke depan (visioner).

Berpikir ikigai seharusnya membuat para negarawan merenung, “Apa sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia dalam 25 atau bahkan 100 tahun ke depan?”. Lalu “Bangsa ini punya bakat yang bagus di bidang apa saja?”. Juga “Apa yang membuat bangsa ini suka?”. Dan terakhir “Apakah dengan itu bangsa ini akan sejahtera?”.

(Republika, 27 Agustus 2019)

Saya baca beberapa tulisan ekonom di berbagai media telah mengindikasikan jika Covid-19 telah menjadi global pandemic yang membawa ketakutan pada situasi ekonomi, yang akan membawa kepada resesi ekonomi global. Memang perlu dibedakan terlebih dahulu antara resesi ekonomi dan depresi ekonomi. Sepengetahuan saya, resesi adalah penurunan ekonomi yang meluas yang berlangsung selama setidaknya enam bulan. Depresi adalah penurunan yang lebih parah yang berlangsung selama beberapa tahun. Sebagai contoh, resesi berlangsung selama 18 bulan, sedangkan depresi terbaru berlangsung selama satu dekade. Ada 33 resesi sejak tahun 1854.

Para ekonom saat ini mengindikasikan dampak Covid-19 akan membawa pada resesi ekonomi, belum ada yang secara terang-terangan memprediksi hal ini akan membawa kepada depresi ekonomi. Walaupun begitu, kasus resesi ekonomi yang akan dihadapi kali ini berasal dari satu saluran resesi ekonomi yang paling serius. Dalam beberapa literatur yang membahas tentang resesi ekonomi terdapat tiga saluran utama yang mampu menghasilkan resesi ekonomi:

1. Policy recession, resesi ini disebabkan karena kesalahan yang dibuat bank sentral dalam menghadapi situasi ekonomi dalam suatu negara. Kesalahan racikan/formula ekonomi yang dikembangkan bank sentral berakibat pada resesi ekonomi di tengah-tengah masyarakat.

2. Financial crisis, resesi ini disebabkan oleh financial imbalances, siklus resesi oleh financial crisis ini biasanya terjadi dalam jangka waktu cukup lama, namun sekarang ini kerap kali siklusnya menjadi semakin cepat dan semakin sulit disembuhkan. Kasus baru yang sangat terkenal adalah karena kemacetan kredit perumahan di Amerika Serikat tahun 2008 yang menyebabkan resesi ekonomi global.

3. Real recession, resesi ini disebabkan oleh sesuatu yang nyata semacam ada bencana alam, perang panjang dan wabah. Dan melihat Covid-19 ini adalah bagian daripada real recession ini. Beberapa literatur ekonomi bahkan dengan ekstrim menyebutkan resesi yang bersumber dari real recession ini bisa berdampak cukup mengkhawatirkan dan mampu berujung pada depresi ekonomi. Karena tidak ada yang bisa menjamin kapan sebuah bencana atau wabah tersebut berakhir.

Saya melihat beberapa pandangan para ekonom tentang skenario ekonomi yang menjadi prediksi. Yang paling banyak diperbincangkan adalah adanya tiga skenario V-U-L.

Skenario 1 (V-Shaped)

Skenario ini menggambarkan guncangan ekonomi riil yang klasik, adanya perpindahan output, tetapi pertumbuhan pada akhirnya meningkat. Dalam skenario ini, tingkat pertumbuhan tahunan dapat sepenuhnya menyerap guncangan. Meskipun banyak ekonom yang ragu dan terlihat sok optimis di tengah kesuraman hari ini, tapi beberapa ekonom ada yang tetap percaya dengan skenario ini dan menganggap Covid-19 adalah goncangan sesaat.

Skenario 2 (U-Shaped)

Beberapa ekonom menggambarkan kalau skenario ini adalah saudara jelek dari V-Shaped. Guncangan tetap ada, dan sementara jalur pertumbuhan awal dilanjutkan, namun adanya beberapa kehilangan output permanen. Beberapa ekonom percaya skenario ini dapat juga berlaku, tetapi mereka cenderung membutuhkan lebih banyak bukti kerusakan sebenarnya dari Covid-19 ini.

Skenario 3 (L-Shaped)

Dan skenario ketiga ini dikatakan sebagai skenario terburuk yang dapat terjadi. Beberapa ekonom mau percaya pada skenario ini jika mereka juga percaya kalau Covid-19 mampu membuat kerusakan struktural yang signifikan, misalnya Covid-19 mampu merusak sisi suplai dari riil ekonomi, merusak pasar tenaga kerja, atau merusak capital formation yang meluluhlantahkan iklim investasi global. Jika melihat gejala-gejalanya, beberapa ekonom percaya jika Covid-19 ini juga bisa menjadi jalan yang membuka skenario ketiga ini.

Jika kita telusuri lagi jejak sejarah perekonomian dan wabah virus, kita dapat melihat data empiris dari goncangan wabah terhadap ekonomi ini sebelumnya, yang ada SARS tahun 2002, flu H3N2 (Hong Kong) tahun 1968, flu H2N2 (Asia) tahun 1958, dan flu Spanyol tahun 1918. Secara empiris (Gambar dibawah tulisan) semua kasus secara empiris terbukti dimonopoli oleh skenario V-Shaped.

Sehingga wajar banyak ekonom yang memprediksi goncangan Covid-19 ini pada akhirnya akan membentuk skenario V-Shaped yang merupakan goncangan biasa dalam ekonomi, namun kemudian ekonomi bisa kembali naik membentuk huruf V. Dan beberapa ekonom dengan sudut pandang optimis, yakin dengan adanya goncangan Covid-19 ini bahkan akan menciptakan legacy secara mikro dan makro. Bagi sisi mikroekonomi akan melahirkan jalan bisnis baru seperti halnya kasus SARS pada awal tahun 2000-an yang melahirkan budaya belanja online dan melejitkan nama Alibaba di Cina. Covid-19 ini juga diyakini oleh Prof. Edmund Phelps dari Columbia University akan merubah secara drastis bagaimana kita berbelanja, bepergian dan bekerja untuk di masa mendatang, selain itu juga ada James Boughton yang selama berpuluh tahun menjadi sejarawan keuangan-nya IMF yang menyatakan “every crisis is also an opportunity,” yang mendukung skenario V-Shaped atas krisis Covid-19 ini.

Berbeda dengan mereka, ada juga pemenang nobel ekonomi tahun 2013 Prof. Robert Shiller, ekonom Yale University yang mendapat nobel ekonomi berkat tulisannya akan financial bubbles. Shiller pesimis dengan skenario V-Shaped yang akan menjadi ujung krisis akibat Covid-19 ini. Shiller berpendapat jika depresi ekonomi yang terjadi pada masa lalu ada yang bisa dipicu oleh penyebaran kabar burung mengenai ide-ide pemismistis saja, dan itu cukup untuk membuat resesi ekonomi yang panjang dan berujung pada depresi. Dan yang dihadapi saat ini ada virus Corona yang sifatnya bukan kabar burung, melainkan nyata, dan masuk kategori real recession. Dan situasi ini bisa mengarah kepada skenario terburuk.

Menurut Prof. Shiller ini adalah situasi yang sangat tidak biasa. Beberapa bulan lalu tidak ada orang yang mengantisipasi hal seperti ini akan terjadi. Dimana orang-orang yang takut tertular kemudian tidak menjalankan kegiatan ekonomi mereka seperti biasanya. Indikatornya bisa terlihat dari struktur suku bunga yang tertekan sampai 1%. Bahkan pada masa The great depression, long-term bond yields terendah berhenti di 2%. Dan ketika ada pertanyaan mengapa bisa serendah itu sekarang, apakah ini karena ketidakmampuan neraca bank sentral Amerika yang semakin membengkak, Prof. Shiller menegaskan itu bisa saja, namun yang paling utama adalah akibat virus corona ini. Sehingga Prof. Shiller dengan tegas berani mengatakan jika virus Corona ini dengan mudah mengguncang ekonomi global yang akan membawa kepada resesi ekonomi global.

Hal ini memang sudah bisa kita baca, perekonomian dunia saat ini yang berada dibawah satu sistem, yaitu sistem ekonomi kapitalisme memang sangat rentan terkena resesi, selemah apapun goncangannya, apalagi terhadap real recession yang berasal dari adanya wabah penyakit. Maka tak heran ketika ulama Palestina, Syaikh Hamad Thabib menulis sebuah artikel yang berjudul فيروس كورونا وتأثيره على اقتصاد العالم (Virus Corona dan Dampaknya terhadap Ekonomi Global), beliau mengatakan jika sistem ekonomi kapitalisme niscaya adalah sebuah sistem yang rusak dan mudah terkena resesi. Beliau mengibaratkan sistem ekonomi kapitalisme ini dengan ‘هو أوهى من بيت العنكبوت (ini lebih tipis dari sarang laba-laba) untuk mengibaratkan saking lemahnya sistem ini terhadap goncangan ekonomi.

Terlepas dari skenario apa yang akan berlaku dari sudut pandang para ekonom Barat saat ini, nyatanya ada hal mendasar yang terlewatkan oleh para ekonom Barat ini dalam menyikapi fenomena goncangan ekonomi yang bisa memberikan resesi. Yaitu masih ketidaksadaran mereka akan rusaknya fondasi sistem kapitalisme yang hanya akan menampung kerusakan demi kerusakan. Hal ini dikarenakan sistem ini bertumpu pada sektor non-riil yang menguasai sebagian besar aktivitas ekonomi. Sehingga solusi ataupun skenario yang dapat mereka pikirkan adalah skenario-skenario tambal sulam yang tidak akan menyelesaikan masalah dari akarnya.

Sehingga ada beberapa pelajaran dari skenario resesi ekonomi yang akan terjadi akibat dampak dari Covid-19 ini, yaitu:

1. Harus bersandarnya sebuah perekonomian suatu negeri pada sistem ekonomi yang riil, dari mulai sistem moneter yang tidak bertumpu pada pilar kosong ribawi sektor keuangan sampai harus memastikan adanya distribusi ekonomi mengenai kebutuhan pokok yang merata di sebuah negeri, dan tidak boleh bergantung pada pihak luar. Terlebih lagi untuk pemenuhan kebutuhan pokok, dan bisa menyiapkan kebutuhan pokok disaat-saat genting tidak terduga seperti ini. Artinya perlunya ada rancangan anggaran yang dialokasikan dalam keuangan negara untuk menjamin kondisi seperti ini lagi dimasa yang akan datang.

Kondisi seperti ini tidak akan dapat terlaksana jika mindset menjalankan pemerintahan adalah mindset kapitalisme. Bukan mindset sebagai pengurus urusan masyarakat. Sehingga penyiapan alokasi untuk mengurus masyarakat dalam sebuah wabah ini akan dianggap sebagai beban negara, bukannya sebagai kewajiban negara. Berbeda dalam sistem Islam. Dalam Islam dengan tegas bahwa fungsi negara adalah sebagai pengurus urusan masyarakat.

Kepemimpinan dalam konteks bernegara adalah amanah untuk mengurus rakyat. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

…الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Berkaitan dengan pengurusan rakyat juga, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

كَانَتْ بَنُوْإِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ وَسَتَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ. قَالُوْا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ.  وَأَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Dulu Bani Israil selalu diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sungguh tidak akan ada nabi setelahku, tetapi akan ada banyak khalifah.” Para Sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Penuhilah baiat yang pertama, yang pertama saja. Beri mereka hak mereka karena Allah nanti akan meminta pertanggungjawaban mereka atas urusan saja yang telah diserahkan kepada mereka.”  (HR Muslim).

Dalam hadis tersebut jelas bahwa para pemimpin yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah subhanahu wa ta’ala kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurus mereka dengan baik atau tidak. Maka, dalam kasus wabah Covid-19 ini adalah sebuah urusan yang wajib diambil perannya oleh negara untuk mengurusi masyarakatnya. Sehingga jika negara mampu menjalankan fungsinya dengan baik sebagai pengurus urusan masyarakat dan mampu untuk menjamin ketersediaan kebutuhan pokok masyarakatnya di saat ada kejadian seperti ini adalah salah satu tolak ukur keberhasilan sebuah negara. Sehingga diharapkan tidak ada masalah ketika sebuah negara harus melakukan lockdown untuk menghentikan penyebaran virus berbahaya seperti ini.

2. Larangan tunduk pada negara lain dalam kebijakan negara, hal ini terlihat dari adanya hutang luar negeri. Dalam sistem ekonomi kapitalisme ini, negeri-negeri berkembang dibuat untuk selalu terlibat dalam hutang luar negeri sebagai bagian perekonomian negara. Dalam kasus Covid-19 ini terlihat sangat jelas di Indonesia. Ketika Indonesia berusaha untuk memberhentikan menyetop sementara penerbangan langsung Indonesia-China, memberhentikan sementara bebas visa kunjungan dan visa on arrival untuk warga China, juga melarang impor hewan hidup dari China. Keputusan ini direspon negatif oleh duta besar China untuk Indonesia, Xiao Qian. Pemerintah China menolak kebijakan Indonesia tersebut dan masih belum bisa menjalankan rencana itu sepenuhnya karena tekanan ini. Sebagian pihak bisa membaca hal ini dikarenakan China adalah salah satu dari empat negara terbesar pemberi hutang kepada Indonesia selain Singapira, Jepang dan Amerika Serikat. Total hutang Indonesia kepada China berdasarkan data statitstik utang luar negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis oleh Bank Indonesia, terdapat hutang sebesar 17,75 miliar dollar AS.

Dalam hal ini, sistem ekonomi Islam mengharamkan hutang luar negeri. Terdapat dua aspek yaitu pertama mengenai larangan riba yang melekat pada hutang luar negeri itu. Dan kedua adalah kewajiban negara untuk mandiri dalam finansial agar terbebas dari tekanan. Dana didapat dari kepemilikan negara berupa ‘usyur, ghanimah, jizyah, kharaj, fa’i dan lain sebagainya. Juga dengan kepemilikan umum berupa tambang, emas, perak, hutan, air, dan lain sebagainya. harta tersebut dikelola oleh negara dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat berserta kebutuhan penunjang. Tentu kemandirian negara akan terjadi, kedaulatan pun akan terjaga tanpa harus terjerat utang ribawi. Dengan kemandirian seperti ini tidak mungkin ada intervensi dari negara lain seperti China yang negaranya adalah sumber penyebaran wabah berbahaya.

Dengan beragam skenario yang coba diulas para ekonom kapitalis telah kita dapati tidak akan mampu membebaskan dunia dari berbagai resesi ekonomi dimasa yang akan datang, kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar goncangan akibat Covid-19 ini membuka mata umat atas kesesatan ideologi kapitalisme dan turunan sistem ekonominya yang membawa kerusakan. Sekaligus membuat kita yang telah sadar untuk meningkatkan segala upaya kita untuk segera mengembalikan jalan lurus sistem Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan, terlebih lagi dalam aspek perekonomian yang mampu membawa keberkahan dunia dan akhirat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here