Home Apple Sains Islam Bukan Romantisasi

Sains Islam Bukan Romantisasi

9
0

Oleh : Prof. Dr. -Ing. Fahmi Amhar (Anggota Dewan Pakar Alumni Program Habibie)

HILMI.ID – Di India baru-baru ini terdapat fenomena menarik. BBC memberitakan, dalam Kongres Sains India ke-106 yang dibuka Perdana Menteri Narendra Modi, seorang rektor sebuah universitas di India mengutip teks Hindu kuno sebagai bukti bahwa penelitian sel induk sudah ditemukan di India ribuan tahun yang lalu.

Sementara Nageshwar Rao, wakil rektor Universitas Andhra, juga mengatakan bahwa Rahwana, raja raksasa dari epos Ramayana, sudah memiliki 24 jenis pesawat dan jaringan jalur pendaratan modern di tempat yang sekarang disebut Sri Lanka.

Ilmuwan lain dari universitas di Tamil Nadu mengatakan di konferensi bahwa, teori Newton dan Einstein salah. Ia mengatakan gelombang gravitasi harus diubah namanya menjadi “Gelombang Narendra Modi”.

Geolog Ashu Khosla mengatakan bahwa dewa Brahma menemukan dinosaurus dan mendokumentasikannya dalam naskah suci India kuno.

Pada 2017, menteri muda pendidikan India Satyapal Singh mengatakan bahwa pesawat terbang sudah disebutkan dalam epos Ramayana. Ia menambahkan bahwa pesawat diciptakan pertama kali oleh orang India bernama Shivakar Babuji Talpade delapan tahun sebelum Wright bersaudara membuatnya.

Pada 2014, Anggota parlemen Ramesh Nishank menuai kemarahan saat mengatakan bahwa “sains jauh ketinggalan dibanding astrologi”. Menurutnya, India bahkan sudah melakukan uji coba nuklir lebih dari 100.000 tahun yang lalu.

Dalam berurusan dengan sains, India modern memang penuh ‘keberagaman’. Di satu sisi, negara itu memiliki tradisi ilmiah terkemuka, bahkan pemenang Nobel Fisika. Tetapi juga memiliki tradisi panjang mencampur-adukkan sains dengan mitos, budaya pseudosains, yakni sains yang othak-athik gathuk.

Belakangan di bawah partai BJP nasionalis Hindu Narendra Modi, sebagian menganggap bahwa India mendorong pseudosains dari sekadar budaya pinggiran tak berarti, menjadi arus utama. Modi sendiri pada tahun 2014 mengemukakan klaim ganjil bahwa operasi kosmetik sudah dipraktikkan di India ribuan tahun yang lalu.

Akibatnya banyak menteri meneladaninya dengan klaim sejenis. Kongres Sains India juga mulai mengundang para akademisi dengan kecenderungan nasionalis Hindu yang membuat klaim-klaim yang sama ganjilnya.

Klaim semacam itu biasanya dikaitkan dengan kejayaan Hindu masa lalu untuk mendukung nasionalisme keagamaan di India. Partai BJP dan sekutu garis kerasnya telah lama menggabungkan mitologi dan agama untuk mendongkrak Hinduisme politik dan nasionalisme.

Hal yang mirip bisa juga terjadi di sebagian umat Islam. Meski sejarah peradaban Islam pernah menunjukkan kemajuan yang pesat ketika Islam menjadi inspirasi, metode dan tujuan pengembangan sains dan teknologi, namun saat ini, ketika dunia Islam sedang terpuruk, banyak penggiat Islam yang hanya terjebak dalam “romantisme sains”.

Mereka tidak tergerak untuk menerjuni sains dengan inspirasi, metode dan tujuan yang sama seperti ilmuwan zaman peradaban emas Islam. Mereka hanya ingin lebih percaya diri ketika tahu bahwa dulu umat Islam unggul dalam sains. Bahkan mereka berlebihan dengan mengklaim seolah-olah seluruh sains dan teknologi modern saat ini sudah ditemukan di zaman Abbasiyah atau Utsmaniyah, termasuk nuklir, nano teknologi, ruang angkasa atau cyber.

Di sisi lain juga ada sejumlah penggiat Islam yang mengatakan secara dogmatis, “Di Qur’an semua sudah dikabarkan”. Maka mereka lalu mengklaim misalnya bahwa “madu itu obat untuk apapun, tak mungkin Allah berdusta”. Jadi riset kedokteran atau farmasi yang berbiaya mahal itu tidak perlu. Atau mereka mengklaim bumi itu datar, di atas (langit) ada surga, di bawah ada neraka. Jadi kata mereka, semua teori geografi, geologi dan astronomi itu omong kosong.

Tentu tidak seperti itu. Gerakan membangun sains islam bukan sekedar romantisasi pada sejarah peradaban Islam di masa lalu, bukan pula sekedar klaim bahwa semua telah ada di dalam Qur’an dan Sunnah serta siap pakai.

Khusus tentang India, Futuhat Islam ke Sindh pada 712 M adalah peristiwa penting dalam sejarah India karena untuk pertama kalinya umat Islam membebaskan India di bawah kepemimpinan Muhammad Bin Kasim. Kemudian muslim memperoleh supremasi politik atas tanah dan terus memerintah India selama berabad-abad.

Tentu saja, ini bukan pemerintahan asing pertama di India. Jauh sebelum kedatangan kaum Muslim, penguasa asing seperti Indo-Yunani, Sakas, Indo-Parthia, dan Kushanas telah menguasai sebagian besar wilayah anak benua India. Meskipun orang luar ini memerintah India secara politis, tak lama kemudian mereka dipengaruhi oleh sifat sosial-budaya Hindu. Hinduisme dengan kekuatan asimilatif India membuat para penjajah asing ini masuk dan membawa mereka ke dalam kawanannya.

Karena orang asing awal ini tidak memiliki sistem agama yang jelas, pada saat kedatangan mereka di India, mereka dengan mudah merangkul cita-cita spiritual negeri itu. Mereka tidak pernah didatangkan untuk menerima Hindu tetapi menjadi anggota agama yang tidak terpisahkan ini tanpa ragu-ragu.

Namun, situasinya berbeda dengan Islam. Islam adalah agama yang lengkap dengan bahasa yang tepat, naskah, hukum, adat istiadat, sains dan bahkan teori negara. Secara alami dengan pertumbuhan Islam, negara-negara Asia pra-Islam lainnya di Asia Tengah berada di bawah pengaruh Islam yang kuat dan mereka semua diislamkan.

Karena itu, di India, Islam tetap merupakan pengecualian unik terhadap kekuatan asimilatif kuat Hinduisme. Gagasan penyerapan ke dalam Hindu menjadi sangat tidak efektif ketika bersentuhan dengan Islam. Para pendatang Muslim ini tetap sebagai unit yang berbeda karena sadar akan identitas mereka sendiri.

Penguasa Muslim mempertahankan pengadilan, birokrasi, sistem hukum, bahasa, adat istiadat dan kepercayaan mereka dengan gaya mereka sendiri. Periode Kesultanan, mulai dari abad ke-13 sampai munculnya Mughal pada tahun 1526 M adalah sangat penting.

Penguasa muslim juga mewariskan tradisi ilmiah yang tetap berguna digunakan India memasuki zaman modern, karena bukan sekedar “cocokologi” dengan ajaran lama, bukan sekedar romantisme masa lalu, juga bukan sekedar dogma kitab suci. Sedangkan peninggalan yang masih dapat disaksikan saat ini mulai dari arsitektur pencakar langit hingga observatorium bintang.

Dimuat dalam Media Umat 1 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here